Harta Yang Paling Berharga nan Mulia Adalah Ilmu

Sabtu, 05 Januari 2013

CERMIN YANG TERBELAH


Sore itu puasa hari ke tigabelas, penerbangan dari Pontianak baru mendarat. Dengan makanan ringan yang disediakan oleh maskapai penerbangan, saya berbuka puasa. Dengan badan terhuyung karena letih, harus lanjut menuju satu hotel di ibu kota untuk melanjutkan rapat dengan koorporit lainnya. Ditengah jalan saya dikejutkan dengan berita buronan kelas kakap tertangkap di suatu negara yang jauh sekali. Berita itu tidak begitu mengejutkan, justru yang membuat terperangah adalah biaya  carter pesawat seharga empat milyar. Lamunan gila saya mulai muncul berapa banyak cendol disediakan kalau uang sebegitu banyak dibelikan untuk berbuka puasa. Berapa banyak fakir miskin yang dapat kita santuni dengan cendol sebegitu banyak. Atau berapa masjid yang dapat kita beri sumbangan untuk membeli ambal guna digelar pada waktu solat Id.
Cerita lain menjadi lengkap pada waktu melihat berita televisi satu stasiun tertentu yang menayangkan adanya organisasi keagamaan yang sedang menjalani ritual puasa, tega mengobrak abrik kedai makan yang buka di siang hari. Memang kedai itu tidak layak untuk buka, dan harus tutup. Tetapi sebagai agama pembawa kedamaian rasanya memilih cara untuk mengobrak abrik tempat mencari makan rakyat kecil serupa itu rasanya tidak begitu pas. Bahkan umat lain menagkap jangan-jangan itulah tontonan yang benar dari agama tadi. Saya sebagai penganut agama  tadi menjadi prihatin. Apakah tidak ada cara lain yang lebih terhormat dan agamais dalam bertindak, sementara kita sedang berpuasa.
Suguhan itu belum selesai di sana. Pada waktu membaca harian terbitan Ibu Kota, hati menjadi miris, karena ada pasangan suami istri tega gantung diri karena sudah tidak kuat menahan himpitan kemiskinan. Daerah beliau ini tidak begitu jauh dari Ibu Kota Negara. Rasa pilu menyelimuti hati penulis begitu membaca berita sang Bapak dan Ibu sudah berupaya menghidupi keluarganya dengan bekerja apa saja. Akan tetapi keberuntungan belum memihak kepadanya. Akhirnya jalan pintas yang beliau lakukan, walaupun jalan itu menyisakan sejumlah persoalan baru bagi anak-anak yang ditinggalkan.
Logika di atas jika dimasukkan ke dalam pemikiran matrik, maka: Logika pertama, jika uang empat milyar dibagikan kepada organisasi masa untuk pembinaan organisasi, sehingga tidak berperilaku anarkhi dalam pola perjuangannya,  berapa banyak organisasi jika setiap organisasi diberi bantuan empat juta rupiah. Logika kedua, berapa banyak keluarga miskin yang dapat terbantu jika uang empat milyar itu dibagi limaratus ribu perkeluarga. Logika ketiga, jika uang tersebut kita belikan cendol, berapa tenaga kerja yang akan terlibat untuk mengerjakan borongan gila itu. Jadi logika ini tidak harus dipilih karena sekalipun melibatkan banyak tenaga kerja, tetapi tidak memiliki nilai guna sama sekali, sama halnya uang tersebut untuk menjemput buron.
Kondisi ini sebenarnya sama dengan menyinggung aspek rasa keadilan bersama bagi warganegara. Oleh sebab itu negeri ini memerlukan pimpinan yang memiliki kompetensi  sosial dalam memimpin. Sensitivitas sosial sangat diperlukan bagi seorang pemimpin negeri ini sehingga dapat menangkap kesejangan sosial yang melebar, untuk segera membangun jembatan agar semua terjalin secara utuh dan berkesinambungan.
Peristiwa serupa ini sebenarnya sudah ada tamsil di dalam Kitab lama, yaitu pada masa kekhalifahan, dimana dikisahkan seoran halifah yang pada waktu malam hari mendengar rakyatnya menangis. Beliau kemudian menghampiri sumber tangis tadi. Ternyata ditemukan seorang Ibu sedang merebus batu. Tatkala ditanya apa alasan Sang Ibu merebus batu, ternyata itu adalah cara beliau menenangkan putranya yang sedang kelaparan. Sang Ibupun mengatakan bahwa Khalifah tidak pernah tahu tentang nasib rakyatnya. Sang Khalifah tersontak seperti diingatkan, sejurus kemudian Khalifah mengambilkan gandum dengan cara memanggul sendiri untuk memberikannya kepada sag Ibu. Ini adalah cara Khalifah menebus dosanya kepada rakyatnya. Beliau tidak memerlukan pencitraan di muka umat, akan tetapi lebih mengutamakan keridoan keilahian dimuka Sang Pencipta.
Ada hikayat lain yang amat Indonesia banget (menggunakan bahasa gaul anak muda sekarang), yaitu pada waktu Sultan Hamengkubuana ke IX pulang dari turba kendaraan Jeepnya disetop oleh Simbok pedagang Pasar Bringharjo. Simbok minta tumpangan Supir Jeep untuk mengangkat barang-barangnya. Supir (Yang Sultan itu) dengan cekatan membantu Simbok. Sesampai di Pasar Bringharjo, beliaupun menurunkan barang-barang Simbok. Tatkala Jeep sudah berlalu, maka Simbok Bakul pingsan begitu diberi tahu oleh temannya bahwa yang ditumpangi tadi adalah Ngersodalem Kanjeng Sultan Yogja Ke IX.
Pertanyaan tersisa dari tamsil-tamsil di atas, masihkah ada hati nurani pada pemimpin-pemimpin bangsa ini, sehingga uang empat milyar ditegakan untuk mengusung sang kuruptor kembali. Janganlah hati rakyat terus dilukai dan diciderai. Janganlah perasaan mereka dibiarkan membuncah melihat dagelan yang kita tampilkan. Saya sangat risau andaikata klimak luka hati itu berubah menjadi apatisme.
Akan sangat mahal ongkos sosial yang harus dibayar oleh negara ini jika rakyatnya menjadi apatis. Semua dibiarkan berlalu dan jika mereka diminta partisipasinya dalam suatu even, mereka serentak koor “mana uang rokoknya”. Mereka bersikap begini karena mereka muak melihat perilaku pemimpinnya. Pemimpin bergelimang uang sementara rakyat menderita bak tak berkesudahan. Dari antri BBM sampai dengan antri beras gratis dilakoni, sementara segolongan elite menikmati preveless yang luar biasa banyaknya.
Marilah dengan sisa puasa yang tinggal hitungan mundur ini kita semua kembali kejalan yang benar, ke jalan yang mendapatkan redho dari pemilik kehidupan ini. Kefanaan dunia ini akan nikmat kita rasakan jika terhubung erat dengan keabadian surgawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar