Harta Yang Paling Berharga nan Mulia Adalah Ilmu

Jumat, 03 Juni 2016

SEKOLAH SOSIAL ITU BERNAMA SUMBER WARAS

                                          SEKOLAH SOSIAL ITU BERNAMA SUMBER WARAS

Setiap kita mencari Apotik, yang orang dulu lebih mengenal dengan Rumah Obat, biasa kita akan bertemu dengan seloka kata WARAS yang merupakan serapan dari bahasa jawa dengan arti sehat. Contohnya; Apotik Enggal Waras, Sumber Waras, Bagas Waras; dan lain sebagainya.
Namun akhir akhir ini kata WARAS sudah mulai bergeser maknanya, tidak lagi dapat diterjemahkan otomatis Sehat;akan tetapi justru bisa menjadi sebaliknya. Pembalikan esensi makna ini karena kekacauan kode labeling sosial yang dilakukan oleh pelaku sosial.
Sumber Waras yang semula diberi label pemakna sebagai mata air yang memberi kewarasan dan atau kesehatan, justru berubah menjadi Sumber Kekisruhan, baik dalam konteks simbol, maupun dalam konteks kebendaan.   Sumber Waras juga sebagai pintu masuk menjadikan sesuatu yang tidak waras menjadi waras. Sumber Waras juga menjadi Tonil Sosial bagi para pelakunya untuk menunjukkan begitu kuasanya kekuasaan. Dengan kata lain Sumber Waras dapat dijadikan medan pengesahan hipotesis bahwa Segenggam Kekuasaan itu jauh lebih penting dari pada Segunung Kebenaran.
Kita sering lupa dengan contoh dan tamzil yang telah banyak di gelar di muka bumi ini; bahwa sesuatu yang membalik kodrat itu akan menjadikan pekerjaan sia-sia. Pada Epos Baratayudha kita kenal tokoh Patih Sengkuni, yang dengan liciknya membuat kebenaran menjadi kesalahan, hitam dikatakan putih. Nasipnya oleh Sang Dalang dilakonkan tokoh Sengkuni harus tewas secara mengenaskan ditangan Kuku Pancanakanya Sang Bima. Kematiannya memilukan, tersobek-sobek semua organ tubuhnya.
Logika berfikir rakyat dengan logika berfikir penguasa menjadi berpisah dihadapan Sumber Waras, dan ini menjadi sangat berbahaya ke depan. Semua kita tidak sadar bahwa Sumber Waras menjadi nama SEKOLAH SOSIAL bagi masyarakat. Bias-bias yang muncul pada penguasa dengan menaikkan syarat perorangan jika maju sebagai Calon dalam Pilkada, issu etnisitas yang dikemas dalam prajudice, dan masih banyak lagi. Semua akan mendorong rakyat untuk menggunakan logikaanya sendiri.
Prakiraan Sosial yang terjadi adalah, Pertama, masyarakat akan semakin muak dengan tontonan politik seperti ini; dan berakibat pada semakin menjauh pada pelaku politik, termasuk Partai Politik. Kedua, karena resistensi terhadap politik makin tebal, akibatnya partisipasi terhadap kegiatan politik akan makin rendah, akibat lanjut saat Pemilu maka mereka yang memilih untuk tidak memilih jumlahnya makin besar.
Sikap masa bodo akan menjadi zona paling aman pada masyarakat, dan pada waktunya akumulasi ini memunculkan politik tawar yang makin menggila. Gerakan “Wani Piro” menjadi makin subur karena politik sesaat dan kepentingan sesaat menjadi begitu pragmatis.

Secara tidak sadar Sumber Waras menjadikan pelakunya sekaligus arsitek sosial untuk penghancuran negeri ini pada tataran ideologis. Politik santun yang selama ini kita gadang-gadang untuk kita hidupkan di negeri ini, menjadi sia-sia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar