Wednesday, 14 June 2017

“PITUTUR” DARI TIMUR


PITUTUR” DARI TIMUR

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar FKIP Universitas Lampung
Pada acara Diskusi Sumbang Saran di Kabupaten Lampung Timur, kegiatan itu mengundang dua nara sumber; salah satu diantaranya teman seniman sekaligus budayawan senior terkenal di Lampung. Kata-kata bijak dari budayawan ini mengalir begitu deras dan tanpa henti. Kita yang mendengar menjadi terpukau sekaligus kagum; begitu dahsyatnya budaya adiluhung masa lalu yang dapat memandu perilaku para Pangrehprojo pada waktu itu. Dengan gayanya yang khas berkostum mirip Pak Tino Sidin masa lalu, beliau mendereskan kalimat-kalimat filosofis yang hanya bisa ditangkap dengan rasa.
Antara lain Thesa yang beliau kemukakan membuktikan bahwa jika membangun peradaban itu tidaklah hanya cukup mendirikan bangunan yang menjulang kelangit saja, akan tetapi bagaimana membangun fisik disertai dengan membangun budaya bagi pengguna atau pemanfaat bangunan fisik itu juga penting. Pemerintahan yang sudah berkali-kali ganti di Republik ini ternyata banyak sekali meninggalkan peninggalan fisik, akan tetapi masih kurang meninggalkan warisan budaya. Hancurnya sarana fisik yang dibangun selama ini ternyata bukan tidak kokohnya bangunan yang dibangun, akan tetapi lebih pada budaya memanfaatkan bangunan itu yang masih sangat kurang. Pembudayaan perilaku untuk cara pemanfaatan dari produk budaya yang berupa gedung, sering tertinggal. Contoh dilingkungan kampus saja yang tempatnya orang pandai, tetapi belum tentu disertai berbudaya. Kita masih sering melihat kendaraan roda empat atau roda dua yang parkir di bawah tanda larangan parkir, dan itu seolah olah sah-sah saja. Padahal Kampus mestinya tempat orang pandai juga tempat orang berbudaya.
Berbicara masalah budaya adiluhung yang ada ternyata banyak hal yang kita dapatkan; terutama  berkaitan dengan ajaran budi, yang bersumber pada ajaran agama, maupun norma sosial yang ada; diantara ajaran tersebut ialah beberapa kata bijak di bawah ini:
1.Kita harus pandai tetapi tidak untuk menggurui
Tampak sekali pada kalimat ini bahwa kepandaian itu harus dituntut; namun setelah mendapatkannya, pengetahuan tersebut sebagai sesuatu yang bebas nilai, kegunaannya sangat tergantung yang memilikinya. Apakah pengetahuan itu akan digunakan untuk menyengsarakan orang lain, membahagiakan orang lain, sangat tergantung kepada pemilik pengetahuan itu. Namun kita diingatkan bahwa pengetahuan yang kita miliki hanya sebagian super kecil dari anugerahilahi untuk kita. Oleh karena itu diingatkan bahwa sekalipun kita pandai maka janganlah menggurui karena sebenarnya Maha Guru iru hanya Sang Pencipta.
Pada konteks kekinian kata bijak ini masih sangat relevan jika dikaitkan dengan situasi sosial sekarang. Dimana-mana kita banyak menemukan pengetahuan sehasta berkotbah sedepa, sehingga yang mendengarnyapun menjadi terheran-heran, karena banyak hal yang semula jelas menjadi tidak jelas.
2.Kita harus cepat tetapi tidak untuk mendahului
Konsep yang kedua ini menunjukkan bahwa etika dalam tata pergaulan harus dijaga dengan baik, bahwa setiap kita harus dapat melaksanakan segala sesuatu dengan cepat, itu merupakan keharusan; namun kecepatan itu bukan untuk mendahului orang lain, karena jika itu dilakukan yang terjadi adalah membuat malu orang lain; dan jika itu dilakukan maka akan kurang baik jadinya. Jika kita ingin memiliki kecepatan penuh; maka diharapkan membuat jalur sendiri yang di sana tidak ada orang lain yang sama dengan jalur kita.
Kemerdekaan untuk berekspresi dimungkinkan seluas-luasnya; namun bukan berarti harus mengorbankan milik orang lain, dan ini yang perlu dijaga.
Kata bijak yang kedua ini merupakan rambu-rambu rohani bagi kita, terutama diera kompetitif ini. Berkompetisi sebenarnya sudah ada sejak jaman nenekmoyang kita dulu, namun berkompetisi itu bukanlah berarti berhadap-hadapan untuk saling membunuh, akan tetapi berpacu berprestasi pada bidangnya masing-masing.   
3.Kita harus tajam tetapi tidak untuk melukai  
Persoalan yang ketiga, hal ini sekarang tampak dilanggar di mana-mana. Menjadi panutan masyarakat tetapi kerjaannya melukai hati masyarakat. Saat mau pemilihan merayu sejadi-jadinya pada masyarakat, setelah terpilih malah meninggalkan luka pada masyarakat pemilihnya. Mulutnya menjadi pemakan bangkai, sehingga aroma busuk disebarkan atas nama sesuatu yang diyakini kebenarannya sendiri.
Adalagi semula tokoh idola, ternyata jaman sudah mengakhirinya, tetapi yang bersangkutan tetap demam panggung, sehingga pekerjaan sehari-harinya hanya mencari panggung untuk tampil. Usia dan pengalaman yang saharusnya menjadi tolok ukur untuk menjadi penasehat; ternyata dihabiskan hanya untuk menjadi penghasut. Labido untuk selalu menjadi tokoh; sekalipun sudah tidak sesuai dengan jamannya, tetap dilakukan bahkan dengan cara apapun ditempuh; termasuk melukai hati orang lain. Tidak sadar bahwa tampilannya menjadi bahan tertawaan orang lain yang usianya jauh di bawah dirinya; bahkan tidak jarang berperilaku seperti lelucon yang tidak lucu.
Ketajaman berfikir, menganalisis; dan mengkritisi adalah hak semua orang; tetapi bagaimana menyampaikannya dengan penuh arif bijaksana, adalah merupakan petunjuk keluhuran budi seseorang. Kemampuan untuk melaksanakan ini semua tidak tergantung kepada gelar intelektual seseorang’ akan derajaat kepangkatan seseorang; akan tetapi lebih kepada keluhuran budi.
Konsekwensi kultural sebagai orang timur ternyata memiliki tata laku yang luhur. Oleh sebab itu tidaklah aneh jika masyarakat timur ini sering dijadikan oase oleh masyarakat barat, karena keluhuran budi. Namun akhir-akhir ini justru sering menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan etika ketimurannya.
Atasnama modrenisasi dan demokratisasi sering dimunculkan perilaku kebebasan yang kebablasan; sehingga rakyat jelata menjadi kebingungan merujuk kebenaran. Seolah-olah jika sudah memiliki status sosial, maka apa saja dapat dilakukan dan melakukan. Image ini lah yang jika tertumpuk pada masyarakat awam menjadi prustrasi kolektif; dan jika ada pemicunya; maka tidak jarang akan menjadi “amok massa”, dan tidak jarang sulit diprediksi dan jika sudah terjadi menjadi sulit dikendalikan.
Perilaku sosial yang tampak dari luar sebagai “anomali” ; ternyata sebenarnya merupakan tumpukan frustrasi kolektif yang selama ini tidak mendapatkan penyaluran. Oleh sebab itu belumlah terlambat jika pada saat seperti sekarang ini negara hadir untuk mendampingi masyarakat secara sosiologis. Penyelesaian persoalan pembangunan pedesaan tidaklah cukup dengan hanya menggelontorkan dana milyaran rupiah ke pedesaan sebagai usaha pembangunanfisik saja. Akan tetapi juga ada proses pendampingan oleh negara guna memberikan bimbingan moral melalui instrumen kemasyarakatan yang ada, termasuk didalamnya Lembaga Sosial Masyarakat.
Upaya serupa ini belumlah terlambat jika dilihat dari aspek kondisi masyarakat saat ini, dimana berita-berita palsu, ujaran kebencian, dan hal-hal lain yang bersifat destruktif telah menyeruak ditengah masyarakat. Jika ini dibiarkan tanpa ada upaya-upaya yang cepat dari semua kita; maka tidaklah mustahil negara ini akan meledak dari dalam karena keterlambatan kita semua. Upaya-upaya tersebut tidak dapat kita serahkan sepenuhnya kepada satu pihak saja; akan tetapi harus merupakan upaya massal bersama dalam rangak menjaga kesatuan dan persatuan bangsa ini.
Adalah belum terlalu tertinggal jika menjelang ramadhan tahun ini kita semua elemen bangsa kembali kekhitah kita sebagai bangsa yang majemuk. Kita tidak bisa mendebat dan meminta untuk tidak lahir dinegeri ini. Semua adalah sudah ketentuan Sang Pencipta menetapkan kita lahir dinegeri beragam kaum ini. Merawat keberagaman ini berarti kita merawat keberlangsungan negeri ini.
Negeri ini memerlukan pemimpin bukan hanya cerdas, tetapi bijak; dan ada yang lebih utama lagi jika pemimpin lahir dari tengah keberagaman seperti Indonesia ini, dia adalah hasil seleksi alamiah yang luar biasa dan tentu berkualitas.
Selamat Melaksanakan Ibadah Puasa.













0 comments:

Post a Comment