Harta Yang Paling Berharga nan Mulia Adalah Ilmu

Kamis, 20 Juli 2017

MELINTAS GUNUNG MENURUN LEMBAH

Sudjarwo
Guru Besar FKIP Unila

Perjalanan “ritual” mudik lebaran sudah usai, semua menuju pada keseimbangan lagi; bergerilya mengais rezki; dengan semangat baru, harapan baru. Namun demikian tetap ada yang membekas dalam alam ingatan di sana, jauh di alam sadar, berupa memori yang terkadang tidak selamanya mengenakkan.
Slogan  “mudik adalah perjuangan, bertemu keluarga adalah kebahagiaan” merupakan sesuatu yang tepat, karena kata “perjuangan” pada kalimat awal memiliki makna yang begitu luas dan dalam, baik secara fisik maupun secara spirit. Perjuangan untuk masih-masing wilayah memang berbeda, baik tantangannya, bentuknya dan daya tahan yang harus disiapkan. Namun spiritnya tetap sama yaitu berjuang untuk mencapai tujuan.
Pemudik di Pulau Jawa relatif dimanjakan oleh pemerintah, jika dibandingkan di daerah lain. Sarana prasarana sudah dipersiapkan jauh hari; bahkan cenderung dibuat sebaik dan semewah mungkin. Dari kondisi jalan, penerang jalan, bahkan sampai kamar kecilpun disiapkan. Belum lagi liputan pemberitaan yang cenderung dibesarkan sedemikian rupa. Berbeda dengan untuk daerah lain luar Pulau Jawa; liputan hanya dilakukan sekilas serta informasi tidak begitu ditail; baru menjadi berita jika ada kecelakaan yang merengut korban jiwa, itupun tidak seheboh jika kejadian di Pulau Jawa.
Sepenggal pengalaman ini diperoleh saat melakukan Touring lebaran yang baru saja berlalu melintasi Jalan Lintas Tengah Sumatera sampai ke Bengkulu. Pada hari pertama lebaran meninggalkan Provinsi Lampung, situasi masih sangat lengang bahkan cenderung sepi. Sarana dan presarana jalan masih cukup bagus, bahkan kendaraan bisa dipacu maksimal.  Namun begitu masuk wilayah Sumatera Selatan terutama jalur Baturaja – Muaraenim; keadaan berubah drastis, sarana jalan menyempit dan banyak yang terbis kiri kanan jalan. Tampak sekali prasarana jalan masih kurang perhatian. Trans Sumatra sejak diresmikan sampai sekarang, fasilitasnya begitu begitu saja. Bahkan jalan yang menembus hutan Bukit Barisan; nyaris tidak ada perubahan yang berarti dibandingkan dengan sarana yang ada di Pulau Jawa.
Keadaan di atas tidak juga beda fasilitas jalan antara Lubuk Linggau menuju Bengkulu melalui Curup. Padahal daerah ini memiliki potensi wisata yang tidak kalah menariknya dengan Puncak-Jawa Barat. Jalan yang berliku dan kecil menembus hutan Bukit Barisan; dan daerah ini memiliki sejarah panjang terutama Curup dan Tabamenanjung, yang mengukir sejarah perjuangan melawan penjajah; ternyata tetap merana dengan kekurangannya.
Berkaca pada pada kondisi di atas ternyata masa Orde baru yang ingin menidakkan tapak tilas Soekarno Presiden Pertama Republik, masih meninggalkan luka sejarah yang masih harus dirasakan sampai hari ini. Terlepas dari perbedaan kepentingan para pemimpin; tetapi rakyat bukanlah obyek yang harus dikorbankan.
Seharusnya para Wakil Rakyat yang ada di Gedung Parlemen Jakarta sesekali merasakan naik kendaraan darat milik umum (rakyat), merasakan gelombang dan guncangan jalan ini. Jangan hanya pandai mengguncang tatanan negara di Jakarta saja, dengan berdalih membela rakyat; tetapi rakyat yang mana tidak jelas.
Ini baru satu sisi dari republik yang seluas ini, dan note bone tidak jauh dari Ibu Kota Negara, bisa dibayangkan bagaimana keadaan yang ada di Natuna, atau di Pulau Siberut, dan lain sebagainya. Mungkin lebih parah dan lebih mengenaskan.
Jalan Tol Sumatera yang sudah digagas oleh presiden RI pertama, ternyata baru sekarang dilaksanakan, itupun dengan berbagai kendala. Pertanyaan tersembunyi kenapa jalan TOL hanya identik dengan Pulau Jawa. Lalu apa yang dipikirkan oleh pemimpin negeri ini selama sekian tahun dalam melihat keterbatasan sarana ini. Apakah Indonesia itu hanya Pulau Jawa. Pertanyaan pertanyaan begini sering mengganggu banyak pihak, walau jarang mereka mau mengemukakan hanya dengan satu alasan tidak mau mengganggu harmoni. Tampak sekali bahwa pencitraan yang selama ini dibangun ternyata keropos didalam.
Hikma perjalanan mudik lebaran ternyata membuat tersisanya perenungan akan nasib negeri ini. Kemerdekaan yang sudah setengah abad lebih ini belum dinikmati oleh semua lapisan masyarakat di bumi pertiwi. Ritual mudik yang bagi sebagian orang adalah oase kehidupan, namun bagi yang lain adalah perjuangan untuk mencapai tujuan.
Ritual mudik seperti di Indonesia, juga ditemukan dibeberapa negara tetangga; hanya saja ritual mudik yang ada di Indonesia memiiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan itu diantaranya adalah ritual mudik seolah menjadi hajatan nasional, sehingga perhatian semua pihak, termasuk pemerintah menjadi sangat besar. Bukan hanya personal tetapi juga termasuk anggaran, menjadi beban negara yang tidak sedikit. Namun disayangkan sekalipun sudah menjadi agenda tahunan; ternyata pemerintah selama ini belum begitu strategis menanganinya; sehingga pemerintah yang sekarang justru penerima beban terberat dari pemerintahan sebelumnya, apakah ini akan berlanjut ke depan, walahualam.
Wacana atau rencana pemindahan Ibu Kota Negara, juga akan berdampak pada pelayanan ritual mudik ini. Berandai-andai jika Pusat Pemerintahan Negara akan berada di Kalimantan; maka pelayanan ritual mudik akan mengalami pergeseran yang luar biasa; dan ini akan meretas sejarah baru bagi negara ini.
Sejarah mencatat bahwa selama ini pusat pemerintahan negara-negara besar yang pernah hidup di nusantara ini ada di Pulau Jawa, hanya Kerajaan Sriwijaya yang ada di luar Pulau Jawa. Dan jika nanti pada waktunya Ibu Kota Negara akan dipindah keluar Pulau Jawa; maka sejarah Sriwijaya akan terulang dinegeri ini setelah sekian abad berlalu. Hanya meninggalkan pertanyaan ialah sejauh mana kesiapan untuk melakukan itu semua.
Ukuran parameter mudik lebaran menjadi salah satu tolok ukur diantaranya; hal ini bisa dibayangkan jika ibu kota negara masih di Jakarta saja, Sumatera masih terbata-bata dalam mengejar ketertinggalannya, bagaimana kalau pindah menjauh dari Sumatera, apakah ada jaminan untuk lebih baik, atau sebaliknya. Pertanyaan-pertanyaan ini memang kelihatan terlalu dini untuk dilontarkan; namun kita bisa belajar dari negara-negara lain yang juga memiliki pengalaman pernah melakukan pemindahan Ibu Kota Pemerintahannya.
Kajian-kajian akademis dan penelitian konpregensif perlu dilakukan; sehingga pemindahan ibu kota negara bukan berarti pemindahan kemiskinan baru; akan tetapi betul-betul dapat bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini perlu diperhatikan karena bisa dibayangkan ibu kota baru akan menarik urbanisasi baru, dan pada waktunya begitu musim mudik tiba, maka pemerintah akan ada pekerjaan baru menyiapkan sarana prasarana menyambut ritual mudik di daerah ibu kota yang baru.
Dilihat dari segi pemerataan pembangunan hal ini tentu menguntungkan bagi daerah baru; namun juga perlu diperhatikan bahwa untuk pengatasan masalahnya tidak bisa diselesaikan dengan bilangan waktu hari atau bulan; akan tetapi justru akan memakan waktu tahun yang cukup panjang. Jadi apa yang diungkapkan oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla; bahwa waktu yang diperlukan untuk pemindahan ibu kota negara tidak kurang sepuluh tahun lamanya. Estimasi ini adalah sesuatu yang logis, mengingat persiapan non-fisik jauh memerlukan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan persiapan fisik.
Ternyata dimensi mudik untuk wilayah Sumatera yang harus melintas Gunung dan menurunin Lembah membawa alam pemikiran sendiri buat Indonesia. Tanah air tercinta ini sangat memerlukan pemimpin yang arif bijaksana; pemimpin yang tidak hanya pandai mengeluh, pemimpin yang tidak menghujat wakilnya ditengah khalayak, pemimpin yang taat aturan, pemimpin yang tidak suka mencari kambing hitam, tetapi pemimpin yang berjiwa besar mau mengakui kekurangan ditengah kelebihannya.
Demikian juga Tanah Air tercinta ini memerlukan wakil rakyat yang tidak hanya pandai menyalahkan kerja orang lain, wakil rakyat yang hanya merasa menang sendiri, wakil rakyat yang dengan mudah berucap tanpa sadar ucapannya menyakiti rakyat. Rakyat sekarang sudah sangat cerdas, dan pada waktunya wakil yang seperti ini tidak akan dipilih kembali. Rakyat sekarang memerlukan wakil yang cerdas tetapi juga santun. Paham akan etika ketimuran yang sarat dengan simbol-simbol kesusilaan dan kepatutan.
Semoga mudik lebaran tahun adalah mudik terakhir dengan kekurangannya; dan jika Sang Pencipta masih memberi kesempatan untuk menikmati mudik pada tahun yang akan datang, kekurangan selama ini akan berbalik menjadi kelebihan.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar