Tuesday, 22 August 2017

MADHEG PANDITO


MADHEG PANDITO
Oleh: Sudjarwo Guru Besar FKIP Unila

Pada waktu menyimak lakon Mahabarata ternyata kata kunci lakon itu ada pada tangan seorang tokoh bernama Prabu Kresna yang memiliki kerajaan bernama Dwarawati. Tokoh ini memegang Kitab Jitabsara yang berisi alur cerita Mahabarata; siapa  berperang dengan siapa, dan yang harus kalah dan menang siapa. Versi pedalangan Jawa kitab ini selalu dijadikan acuan oleh Kresna guna mengatur lakunya perang besar Bharatayudha.
Prabu Kresna sebagai tokoh sentral dalam peperangan itu bahkan pernah menjadi Kusirnya Harjuna pada saat berperang melawan Adipati Karna di Tegal Kurusetra; yaitu suatu daerah medan tempur untuk berhadap-hadapan satu lawan satu antara prajurit Pandawa dan Hastinapura dan juga para panglima perangnya.
Tokoh Kresna ini menjadi sangat penting pada waktu Perang Baratayudha. Tidak ada satu alur ceritapun dalam peperangan itu tanpa melibatkan beliau. Diawali dengan diplomasi untuk penyerahan Hastinapura secara damai; yang dalam pewayangan terkenal dengan lakon Kresno Duto; walau beliau sendiri sudah mengetahui bahwa itu tidak mungkin, karena jika terjadi maka perang Baratayudha tidak akan jadi, tetapi tetap dilakoni karena memang jantranya harus begitu. Terakhir peran beliau adalah Pendawa Mandito yang juga mengakhiri perjalanan Kresna didunia dan harus menuju kepertapaan guna menjemput maut. Beliau menjalani “sepotonya” Dewi Gendari Ibunya para Kurawa : yang mengharuskan Kresna melihat kehancuran wangsanya didepan matanya sendiri, serta harus rela mati kena anak panah yang nyasar kepadanya saat dia bertapa.
Cerita singkat itu hanya sebagai pengantar pikir untuk melihat kembali bagaimana perjalanan para tokoh kita dewasa ini dalam mengisi kemerdekaan.  Ada tokoh yang berperan sebagai Pejuang Kemerdekaan, ada yang berperan sebagai Pengantar Kepintu Gerbang Kemerdekaan, ada yang berperan sebagai Pengisi Kemerdekaan. Masing-masing peran memiliki fungsi dan tugas masing-masing; yang juga memiliki iklim masing-masing. Masing-masing peran itu sangat penting karena merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Banyak tokoh bangsa ini yang masuk kategori Pengantar Kepintu Gerbang Kemerdekaan, berjuang tidak sempat menyaksikan “pernyataan kemerdekaan” dibacakan. Mereka telah lebih dahulu mendahului menghadap sang Khalik, baik karena usia maupun karena korban perjuangannya. Demikian juga mereka yang berada pada barisan “pencetus” kemerdekaan, bahkan perjuangan mereka bersimbah darah. Berbeda dengan yang berposisi pada pengisi kemerdekaan. Ada diantara mereka justru mengisi pundi-pundi pribadi dengan cara tidak sah. Ada juga yang mengisinya dengan memperturutkan Labido Politiknya; walaupun dengan cara-cara yang tidak sesuai aturan.
Soal Labido Politik ini memang sangat menarik karena tidak mengenal waktu tempat, usia dan jenis kelamin. Dari semenjak zaman purba hingga kini, ternyata labido ini mendorong seseorang ingin berkuasa; untuk memenuhi hasrat itu tidak jarang upaya mencari panggung selalu dilakukan, baik dengan cara-cara terhormat maupun dengan cara-cara yang kurang santun. Ironisnya juga tidak jarang pencari panggung ini  mantan tokoh yang seyogyanya harus menjadi penasehat; justru menjadi pemain. Tampak ketidaksiapan untuk menepi dari zaman dan memberi peluang yang muda untuk tampil.
Jumlah mereka memang tidak banyak, tetapi karena tidak banyak itu justru semua perilaku mereka menjadi begitu kentara. Persoalannya ialah apa yang ditampilkan pada masa lalu sering berbanding terbalik dengan perilaku yang ditampilkan sekarang.
Seyogyanya para tokoh ini menyadari bahwa tantangan jamannya sudah berbeda, iklimnya sudah berbeda, kebutuhannyapun sudah berbeda. Justru yang dipentingkan adalah bagaimana memberi suri tauladan dan nasehat kepada mereka yang sedang melakoni jamannya agar tidak tersesat; bukan justru ikut bermain, bahkan ingin menjadi pelaku utama. Kesesatan berfikir serupa ini hendaknya perlu dihindari, agar para generasi penerus mampu menyelesaikan episode lakonnya dengan baik dan benar.
Tidak ada sesuatu pekerjaan yang sempurna di dunia ini, oleh sebab itu adalah lumrah jika episode keberhasilan didalam proses perjalanannya ada sisi-sisi ketidak berhasilan. Hal inilah seyogyanya ditunjukkan kepada generasi penerus agar tidak mengulanginya. Penjelasan bijak sangat diperlukan dalam konteks ini; oleh karena itu Madheg Pandito itu bukan harus menjauh dari dunia nyata, lalu menuju ke atas gunung guna bertapa atau bersemedi untuk kepentingan sendiri. Untuk saat ini justru harus ada ditengah masyarakat, namun tidak lebur bersama mereka; akan tetapi menjadi sesuluh mereka dalam menjalani peran kehidupan.
Peran ini sekarang menjadi langka, banyak diantara mereka menutup diri, atau mencari panggung baru. Jika pilihannya menutup diri; maka peran Madheg Pandito mereka maknai meninggalkan dunia ini untuk kontemplasi mesu budi, menuju alam keabadian secara mandiri. Pilihan ini tidak salah, karena menentukan jalan hidup sendiri adalah bagian dari Hak-Hak Azazi. Namun pilihan kedua; mencari panggung baru, kemudian ingin ikut berperan terus dalam urusan dunia, juga tidak salah. Menjadi persoalan jika keduanya disikapi secara ekstrim, dalam arti berlebihan sehingga tampak tidak etis, bahkan cenderung norak.
Perilaku seperti di atas akan membawa bangsa ini ke arah Jalan yang sempit Gang yang rumit, karena para Panditho yang seharusnya memberikan jalan terang kepada alam dan umat sekitarnya, justru memberikan perilaku sebaliknya. Hal ini akan berimbas kepada Generasi Millenia yang lahir di atas tahun 80 an, mereka akan kehilangan panutan; bahkan disinyalir mereka suka politik tetapi tidak mau ikut berpolitik, karena salah satu alasannya ialah tidak menemukan tokoh idola. Mereka mengalami disorientasi tokoh; karena apa yang mereka baca dengan apa yang mereka lihat sangat jauh berbeda.
Lebih parah lagi tokoh yang seharusnya menghormati perbedaan sebagai sunatullah; justru mengangkat panji-panji merasa menang sendiri dan paling berhak atas kapling Syurga. Padahal semula waktu muda tokoh ini menebarkan kebhinekaan dimana-mana; akan tetapi menjelang usia senja justru menjadi penebar teror ideologi yang masif. Bahkan memiliki kecenderungan baru yaitu memksakan kehendak kepada pihak lain. Ketokohan diwaktu muda sebagai pejuang demokrasi seolah pudar dibawa jaman. Semula orang sangat takjub dengan ketokohannya, justru akhir-akhir ini mereka merasa menemukan sosok lain dari tokoh ini.
Bagaimana jika tokoh waktu muda paling tidak pernah berbuat salah langkah dalam menapaki sejarah pengabdiannya; kemudian di ujung usia menjadi tokoh, pergi kepertapaan untuk melakukan pertaubatan. Ternyata nasib tokoh seperti masih jauh lebih baik, karena banyak orang memberi apresiasi; bahkan cenderung memaafkan kesalahan masa lalunya. Tidak jarang simpati yang diberikan menjadi berlebihan dan mengkultuskan, bahkan diperlakukan sebagai seorang “Juru Selamat” yang hadir di dunia.
Suka tidak suka saat ini Indonesia memasuki era generasi baru, generasi Millenia yaitu generasi yang tidak pernah lepas dari genggam teknologi. Bahkan generasi ini sering disebut generasi Global. Teknologi informasi menjadi masuk kebutuhan primer, seperti juga papan, sandang, dan pangan bagi mereka. Tentu saja kebutuhan psikologis mereka sangat berbeda jika dingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.
Mereka memerlukan para “Wiku” yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Ukuran Madheg Pandito bagi generasi ini bukan lagi yang teriak-teriak di jalanan atau diatas mobil komando; Atau juga mereka tidak butuh lagi dengan orang yang bersila di atas batu bersemayam di puncak gunung, akan tetapi ukuran mereka sekarang seorang Wiku itu jika menguasai banyak aplikasi dari teknologi untuk mendapatkan kemudahan. Dari pesan makanan, pesan Taxi, pesan tukang service mobil, dan semua kebutuhan kehidupan; cukup hanya menyentuh layar Gaget yang ada ditangannya.
Arus perubahan serupa ini membuat dunia senyap ditengah kermaian. Komunikasi personal semakin masif tetapi tidak harus terdengar bersuara. Semuanya berjalan dalam kesenyapan, bahkan kegaduhanpun berlangsung dalam senyap. Warga masyarakatnya yang disebut nitizen ini berkembang bagai amuba yang begitu cepat membelah diri. Genersi ini tidak butuh menonton TV berjam-jam kecuali acara kesukaan masal, mereka juga tidak suka retorika yang menggebu-gebu; tetapi mereka lebih suka memperhatikan layar mini dengan seribu informasi.
Mari para Pandito kita mengenali perilaku ini; jika kita berharap negeri ini menjadi lebih baik dimasa depan, maka sebenarnya semua tergantung dari generasi ini. Belum terlalu terlambat kita memperhatikan dan memfasilitasi generasi ini tumbuh guna menerima tongkat estafet Indonesai masa depan.





















0 comments:

Post a Comment