Wednesday, 14 June 2017

LAPAR MATA

LAPAR  MATA

Oleh : Sudjarwo

Guru Besar FKIP Universitas Lampung

Pada bulan Romadhon seperti sekarang ini Pusat Perbelanjaan, pasar tradisional, dan Pasar “Terkejut”, pada waktu-waktu tertentu sangat padat pengunjung; dan semua ingin melahap isi pasar tersebut. Walaupun dominasi kaum Ibu paling banyak; bukan berarti kaum Bapak tidak.  Justru kaum Bapak sering ikut berdesak merengsek ketengah “medan perburuan”; guna mencari yang diinginkan; bukan yang dibutuhkan.
Suasana seperti ini seolah-olah menjadi ciri khas Romadhon; bahkan menjadi semakin ramai menjelang Hari Raya Idhul Fitri. Ditengah hiruk pikuk itu kita sulit membedakan apakah yang belanja dan berjualan sedang melaksanakan ibadah Puasa. Namun ada satu hal yang tampak luar biasa adalah Lapar Mata yang semakin menjadi-jadi. Perilaku massal seperti ini tampak sekali dari pengamatan kita selama ini.
Namun sebenarnya Lapar Mata untuk di bulan Romadhon itu masih manusiawi, dan sangat lumrah, terutama bagi mereka yang baru pertama menjalankan ibadah puasa; menjadi tidak lumrah jika Lapar Mata itu mengidap pada mereka yang sangat getol berkorupsi. Tidak peduli apakah itu pejabat atau rakyat, birokrat atau wakil rakyat; jika sudah terkena penyakit Lapar Mata ini, tidak dapat membedakan lagi mana miliknya dan milik orang lain. Harta sudah berjibunpun dirasa masih kurang; bahkan tidak segan-segan “merampok” yang bukan miliknya.
Pada akhir-akhir ini kita sering mendapatkan suguhan dari media massa, baik tulis maupun elektronik; yang mewartakan bagaimana semakin sistimatik dan rapinya perilaku Lapar Mata ini, bahkan bukan menjadi perilaku individual, sudah berubah bentuk menjadi perilaku berjamaah. Keterangan atau gelar “Wajar Tanpa” yang dikeluarkan oleh lembaga yang selama ini ditakuti oleh penyelenggara negarapun, sudah bisa diatur maunya seperti apa bunyi yang dinginkan. Seolah resonansi bunyipun sudah bisa dipesan seperti terompet Tahun Baru. Bahkan ada yang lebih seru lagi rasa garam yang aslinya adalah “asin”, akan tetapi ditangan peLapar Mata menjadi “manis”. Dan yang bisa mengubah ini tidak tanggung-tanggung adalah Direktur; yang notebene sudah digajih Puluhan Juta Rupiah perbulan oleh Negara.
Menjadi pertanyaan adalah bagaimana gejala Lapar Mata yang satu ini bisa tumbuh sedemikian rupa, seolah raksasa yang bisa bertriwikrama sekehendak hati. Berdasarkan analisis perilaku sosial yang dibangun dari Teori Lapar Sosial; ternyata manusia setelah berkelompok dan bersepakat untuk mencapai tujuan bersama; maka perasaan bersama yang muncul adalah bagaimana upaya untuk mencapai tujuan bersama itu dengan seefektif mungkin; terlepas jalan yang akan ditempuh itu merugikan orang lain atau tidak. Maka dengan kelemahan inilah muncul Teori Moral Sosial yang diperlukan untuk memberikian rambu-rambu guna pencapaian tujuan sosial.
Kita menjadi paham jika sekelompok pengusaha berkumpul menyatu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama; maka koorporasi ini menjadi raksasa untuk melibas siapa saja yang merintangi pencapaian tujuan mereka. Menjadi persoalan bila sekelompok pejabat, baik birokrat, politisi maupun  pejabat publik, menyatu bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama; berperilaku yang tidak sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat. Untuk berkolusi bersama dalam memperkaya diri dengan dalih apapun, ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat.
Lapar Mata bisa berakibat menjadi Lapar Panggung; dan peristiwa ini tampaknya merebak di muka bumi negara tercita kita ini. Alih-alih memberi kesempatan pada generasi penerus untuk melanjutkan estafet generasi, justru kakek-kakek/nenek-nenek sibuk menciptakan panggung sandiwaranya karena lapar popularitas. Alih-alih memberikan Tauziah yang berkesejukan; justru menjadi propokator untuk sesuatu hal; sehingga terbuka ruang panggung untuk dapat menampilkan akting yang jika disimak tampak sekali kejanggalannya dan sering tidak lucu.
Era demokrasi seperti sekarang ini ternyata membawa Lapar Mata untuk segala hal dapat terjadi. Semula Pahlawan, sayang ternyata Pecundang, Semula Petualang, sayang ternyata Penghalang. Perubahan dengan berpayung pada eforia Demokrasi menjadi begitu cepat; apalagi jika masalahnya bersentuhan dengan pribadi atau kelompok; cepat sekali berubah menjadi reaktif yang protektif . Aturan seolah-olah hanya berlaku untuk orang lain; bukan untuk diri dan kelompoknya.
Hak “bertanya” boleh mereka ajukan kepada siapa saja; bahkan berlindung pada perundangan untuk melakukan ancaman dan atau penekanan, walaupun tidak tepat, mereka upayakan untuk tepat; tetapi hak itu tidak untuk orang lain bertanya kepada mereka. Atas nama kekebalan institusi maka perisai ini paling aman untuk dilakukan; mereka dapat menggunakannya “kapan saja, dimana saja, untuk apa saja”; Jika dirasa itu mengancam kepentingan mereka, maka senjata itu mereka turunkan, dengan dalih “koreksi”, tetapi bukan untuk “koreksi diri” nya.
Lapar mata yang dapat berkembang menjadi Lapar Kuasa ini tampaknya akan terus berkembang secara liar kesemua sektor kehidupan manusia. Ini membuktikan betapa dahsyatnya labido manusia dan memang sudah dipesankan dalam ajaran suci agama bahwa manusia itu walaupun sudah diberi satu gunung emas, maka dia akan ingin mendapatkan dua, jika dua sudah terpenuhi dia ingin empat. Kerakusan seperti ini seharusnya bulan suci Romadhon dapat dijadikan bulan introspeksi; ternyata justru bulan ibadah ini tidak menyentuh sama sekali. Bahkan terkesan tidak mempengaruhi sama sekali dengan kelaparan akan kekuasaan.
Lapar kuasa juga dapat memakan korban dalam bentuk fisik; apakah itu reklamasi pantai, garam, flyover, helikopter, jalan tol ; apa saja bisa dilibas. Kita bisa geleng kepala bagaimana bisa terjadi pejabat adu kuasa, atas nama kepentingan rakyat, maka semua bisa dilanggar dengan kuasa. Hasilnya lagi-lagi pembenaran teori Peter Berger tentang Piramidal Kurban Manusia menjadi kenyataan. Rakyat kecillah yang menjadi korban segalanya, dan harus menanggung beban resiko segalanya.
Belum lagi Lapar Kuasa pun bisa memecahkan perkongsian yang semula disepakati waktu mencalon bersama; tetapi karena Lapar Mata yang berubah menjadi Lapar Kuasa, maka kesepakatan kebersamaanpun bisa dikorbankan; dan ironisnya ini diumbar diranah publik. Alhasil masyarakat bisa menilai memimpin satu orang saja tidak mampu, apalagi mau memimpin masyarakat luas.
Masyarakat seolah-olah diberi tontonan gratis tentang bagaimana sesungguhnya laparnya serigala belum selapar manusia, padahal kita semua tau bahwa harkat manusia jauh diatas serigala. Kelaparan akan kekuasaan ini juga diplesetkan oleh banyak pihak dengan jargon “beri aku segenggam kekuasaan, itu jauh lebih berharga dari pada sejuta kebenaran”. Jika ini yang terjadi maka kita tinggal menunggu kerusakan masif pada masyarakat kita.
Dimana-mana kita melihat sisi lain sebagai dampak pengiring dari perkembangan demokrasi adalah munculnya “lapar Kuasa”. Ini tampaknya merupakan cacat bawaan dari bayi yang bernama Demokrasi. Oleh karena itu kita diharuskan berhati-hati dalam menyikapi semua implikasi negatif ini. Kita harus menyiapkan instrumen sosial guna meminimalisir dampak pengiring ini, sehingga sistem tadi tidak menciderai rakyat.
Jargon yang mengatakan “mau pensiun jadi rakyat” adalah lambang simbolis dari keputusasaan menghadapi sistem yang ada. Atau sikap “wani piro” adalah bahasa simbol yang dimunculkan karena merasa tidak mendapatkan manfaat dari sumbangan suara pada waktu pilihan. Akhirnya bahasa-bahasa simbol seperti ini menjadi “oase” bagi rakyat jelata dalam menghadapi Lapar Mata yang bertiwikrama menjadi Lapar kuasa, yang menghinggapi sebagian dari para petinggi hasil pilihannya.
Pada bulan suci ini semoga kita mampu melakukan pengendalian diri untuk tidak Lapar Mata dalam arti yang sebenarnya maupun simbolik; agar tidak bertiwikrama menjadi Lapar Kuasa. Kita semua tidak mengentahui apakah puasa ini merupakan puasa terakhir pada diri kita. Tidak ada yang mampu menjamin apakah kita masih diberi hak untuk melaksanakan puasa ditahun depan. Oleh karena itu tidaklah salah jika kita mengatakannya jangan-jangan ini merupakan puasa kita yang terakhir di bumi ini.
Semoga kita semua mampu memberikan yang terbaik yang kita miliki kepada negeri ini, minimal kontribusi kita adalah doa agar negeri ini tetap utuh dan sejahtera rakyatnya. Karena salah satu diantaranya yang dapat mengubah nasib adalah doa; hanya kapan dan dimana doa itu dikabulkan; itu adalah wilayah Sang Maha Pencipta. Selamat Melaksanakan Saum Romadhon bagi yang melaksanakannya.





  




0 comments:

Post a Comment