Harta Yang Paling Berharga nan Mulia Adalah Ilmu

Sabtu, 22 Desember 2012

HERIWARDOYO


Hari senin tanggal tujuh belas Desember tahun ini menjadi awal babak baru dari seorang jurnalis masuk kedunia baru, dunia birokrasi, dia bernama Heriwardoyo. Wartawan kawakan dari Surat Kabar ternama di Provinsi Lampung ini mengakhiri “masa kemerdekaannya” sebagai seorang jurnalis. Sikap egaliter yang selama ini menjadi penanda bagi seorang Heriwardoyo, harus masuk kedunia protokoler seorang Wakil Bupati yang banyak ”remeh temeh” nya.
Heriwardoyo ( selanjutnya di tulis HW) pada tulisan ini diposisikan pada perspektif lain, dan dilihat dari pihak lain dengan sudut pandang lain. HW sejatinya bukan hanya seorang jurnalis saja, akan tetapi juga seorang mediatoris. Banyak persoalan persoalan kesenjangan, kebuntuan yang ditangani HW menjadi mencair dan memiliki jalan keluar. Satu hal yang HW selalu ketengahkan adalah bagaimana mencari jalan terbaik dengan sama sama menguntungkan (Win Win Solution).
HW juga seorang moderator yang handal. Banyak pencalonan kepala daerah yang pada saat menggelar debat atau pencapaian visi misi, HW diperankan sebagai moderator. Tetapi HW juga kadang berperan sebagai moderator nakal. Pengertian di sini ialah HW sering memojokkan calon yang memang tidak siap, bahkan cenderung “dibunuh” sekalian oleh HW. Pada waktu diluar forum beliau berkomentar calon itu “payah”, itu kata kata khas dari HW. Pada waktu acara digelar HW sering melempar pertanyaan “bola panas” kepada calon, terutama calon petahana. Hal ini menurut pandangan HW perlu, karena jika petahana mampu memanfaatkan momentum ini, maka dia akan unggul dari calon lain, sebaliknya jika tidak mampu memanfaatkan momentum ini, maka petahana akan masuk lubang perangkap HW.
HW juga pernah menjadi tim sukses dari suatu pemilihan kepala daerah. HW sangat piawai menjual “dagangannya”, bahkan terkesan sebagai “juru solek” bagi sang calon. Mungkin pengalaman menjadi Tim Sukses ini yang sekaligus tempat “sekolah” HW untuk menjadi “calon pengantin” dari suatu ajang perebutan “kekuasaan” kepala daerah, mengasah HW menemukenali seluk liku dari “medan perang” pencalonan suatu kepemimpinan.
Karena latar belakang itupula maka HW terhindar dari sasaran kampanye hitam lawan lawan “peperangannya”. Strategi begitu matang disusun oleh HW. Daerah daerah celah rawan, HW susun dari jauh untuk tidak masuk ke ranah public. Alhasil calon lain tidak menemukan pintu masuk untuk mengadukaduk HW dari sisi lain.
Kondisi yang ikut membantu HW adalah beliau bukan dari kalangan yang bersentuhan dengan kekuasaan, atau perniagaan. Profesi Jurnalis (baca: wartawan) selama ini justru orang yang paling sering untuk dihindari oleh penguasa dan peniaga.  Bahkan banyak penguasa yang alergi jika didatangi oleh jurnalis. Akibatnya begitu HW masuk gelanggang, maka calon lain memandang sebelah mata akan kemampuan HW dalam membangun komunikasi dengan calon ini.
Kerangka dasar lain yang juga membawa keberuntungan bagi HW ialah nama. Sekalipun ini tidak begitu relevan dan dominan, akan tetapi untuk kalangan kebanyakan (kata lain dari kelas bawah), yang jumlahnya cukup signifikan, nama HW menjadi cepat akrab di rasa telinga mereka. Walaupun HW sendiri kalau dikonfrontir akan tertawa terbahak bahak, itu khas jawaban HW.
Pertanyaan tersisa sekarang apakah jabatan HW sekarang merupakan puncak kulminasi dari cita cita terpendam, atau pintu gerbang baru yang dimasuki. Kalau jawaban pertanyaan pertama sebagai pilihan, maka HW akan kecewa, karena ternyata puncak itu baru puncak rendah untuk menuju puncak yang lebih tinggi lagi. Jika jawaban untuk kedua, maka HW pun akan kecewa, karena ternyata pintu gerbang itu masih berlapis lagi. Masih banyak pintu pintu lain yang harus HW masuki.
Semua berpulang pada hati nurani HW. Apa yang diucapkan Eyang Kakung Bambang Eka wijaya, dan Akang DJadjat pada waktu acara penghantaran di kantor media ini, itu merupakan “ular ular” dari para pinisepuh untuk dijadikan “pelita” dikala gelap, “tongkat” dikala licin.
Pengalaman sebagai “pewarta” yang hampir duapuluh tahun masih sedikit jika dihadapkan dengan onak dan duri birokrasi di republic ini. Sebagai contoh pada waktu berposisi sebagai pentholan jurnalis moto kanapa dipersulit kalau bisa dipermudah, ternyata di birokrasi bisa terbalik kenapa dipermudah kalau bisa dipersulit. Hal lain, kalau pada masa menjadi “Juru Mesin” di harian terbesar Lampung dikelilingi oleh orang orang lugas dan professional, sehingga sapaan “Abang, Mas, atau malah memanggil nama, adalah manisfestasi egalitarian HW. Itu akan berubah semua memanggil “Bapak, Pak, beliau”, banyak lagi,  dan sulit membedakan itu penjilat atau penghianat.
Sebagai sobat yang pernah bergaul dengan HW hanya titip pesan, jangan berubah perilaku karena jabatan, berubah ucap karena pujian.  Keduanya bisa menjauhkan jarak yang begitu dekat, memutus rasa yang semula mesra. Selamat berjuang sobat, Tuhan menyertai mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar