Harta Yang Paling Berharga nan Mulia Adalah Ilmu

Rabu, 26 Desember 2012

SISA-SISA BERNAMA JOKOWI

Gegap gempita dari Pemilihan Gubernur Daerah Jakarta telah usai. Hasil perhitungan cepat memunculkan sosok baru sebagai pemenang Jokowi alias Joko Widodo, yang asli Solo. Tokoh ini muncul ke permukaan tidak serta merta, tetapi melalui proses panjang yang cukup mengharu-biru sejarah pergulatan anak manusia.

Laju pemilihan itu bagai pertarung elang dan ular. Masing-masing berebut posisi untuk saling mengungguli. Tulisan ini tidak ingin mentamsilkan kedua tokoh pada pengibaratan tadi, tetapi ada pesan moral yang ingin disampaikan dari sekadar pengibaratan.

Masyarakat luas sudah semakin cerdas dalam menilai ketokohan seseorang. Isu primordial murahan yang dihembuskan oleh tokoh tokoh besar berjiwa kerdil, tidak lagi mampu menembus perhitungan rasional para pemilih di Jakarta. Mereka mendobrak kemandegan berpikir yang menyelimuti mitos selama ini.

Tampak jasa K.H. Abdulrahman Wahid dalam menyemai pemikiran kebhinekaan ala Indonesia, hari ini menuai hasilnya. Tokoh penghambat sekaliber seniman tersohor, doktor dari alumnus perguruan tinggi ternama, dan masih banyak lagi yang mengatasnamakan aliran puritan tertentu, tidak mampu membendung gelombang berpikir merdeka atas nama NKRI.


Mereka sangat sadar (yang ini mestinya kaum intelektual lebih sadar) bahwa NKRI tidak dibangun oleh satu aliran tertentu, apalagi agama tertentu, atau etnis tertentu. Tetapi dibangun oleh semua orang yang menamakan dirinya bangsa Indonesia, serta di dadanya hanya ada Merah Putih dan Burung Garuda. Jakarta membuktikan ini semua.

Haru biru pemilihan telah usai, semua kita boleh mengambil hikmah dari semua itu. Bagaimana jiwa besar seorang pemimpin yang mengetahui dirinya tidak menang dalam pemilihan, dengan ringan langsung mengangkat telepon mengucapkan selamat kepada rivalnya untuk mengakui keunggulan sejawatnya.

Jiwa ksatria serupa ini patut diteladani, bukan karena tidak masuk dalam bursa pemilihan kepala daerah malah melakukan boikot, demo yang tidak jelas juntrungannya, atau menunjukkan tindakan lain yang justru merendahkan martabat kesatriaan seseorang, bahkan kekerdilan jiwa.

Demikian juga pemenangnya, tidak serta merta pesta eforia berlebihan. Justru makin menunduk sadar diri bahwa tugas berat telah menunggu. Tugas yang dalam waktu dekat harus dilakukan adalah merangkul kelompok yang selama ini berposisi berseberangan. Pekerjaan ini tidaklah mudah karena mengajak dengan tulus tetap dicurigai, apalagi memang basa basi.

Dari semua peristiwa ini mari semua kita merenungkan apa yang dapat kita ambil hikmah dari "Model Jakarta".

Jika kita kelompok intelektual dapat melihatnya dari galur ilmiah, jika kita dari kelompok politisi dapat melihatnya dari genre politik. Jika kita alim ulama dapat melihatnya dari kaidah hukum keilahian. Jika kita dari kelompok jurnalis, dapat mengkajinya dari pintu gerbang news. Jika dari kelompok birokrasi, dapat mengkajinya bagaimana jika birokrat tidak netral dalam melangkah.

Ternyata Jokowi menyisakan tugas bukan pada dirinya dan teamnya, tetapi kepada kita semua sebagai anak bangsa. Jokowi memberi kita semua pekerjaan rumah untuk berpikir ulang bahwa pikiran picik justru akan membesarkan orang lain karena agama telah mengatakan, janganlah kita menzalimi orang lain, karena akibatnya akan menjadi bumerang diri kita sendiri.

Saudara-saudara kita yang berbeda itu bukan musuh kita, tetapi saudara kita yang hanya bajunya berbeda. Kita berbaju putih, mereka kotak-kotak, yang lain lagi biru, hijau, merah, dan banyak lagi. Mereka yang berbeda itu bukan ngontrak di NKRI ini. Tetapi mereka juga berjuang menegakkan tiang kokoh NKRI, itulah kebhinekaan yang harus kita junjung tinggi dan sadari.

Penyeragaman adalah pengingkaran terhadap sunattullah. Oleh sebab itu, membaca tanda-tanda zaman adalah jauh lebih penting. Itu memerlukan oleh batin yang tinggi serta olah rasa yang dalam. Selamat berjuang Bung Jokowi, janjimu kunanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar