Wednesday, 4 April 2018

MULUT .... MU ..... KEHORMATAN ......... MU

MULUT .... MU ..... KEHORMATAN ......... MU

Oleh :
Sudjarwo Guru Besar FKIP Universitas  Lampung



Sahdan pada satu episode Baratayudha; Sri Kresna melaksanakan tugas menjadi Duta Pamungkas dari Kerajaan Amarta menuju Hastinapura untuk melakukan Perundingan membicarakan Pengembalian Hastinapura ke tangan Pandawa, tanpa peperangan. Walaupun Sri Kresna sudah mengetahui bahwa hal itu mustahil untuk terlaksana; namun sebagai seorang kesatria yang sekaligus raja, mengemban tugas sebagai “Duta Ning Noto” beliau laksanakan dengan baik.Pada Pasewakan Agung di Negara Hastinapura sudah lengkap semua Petinggi dan para Pandito hadir untuk menyaksikan peristiwa besar yang akan terjadi. Ringkas cerita setelah Sri Kresna mengemukakan tujuan kedatangannya; para hadirin terbelah menjadi dua. Kelompok yang menyatakan setuju untuk segera diserahkan, kelompok ini dipelopori oleh Resi Bisma. Kelompok yang menyatakan tidak setuju dipelopori oleh Patih Sengkuni. Bahkan pada acara puncaknya Prabu Duryudana sebagai Raja Hastinapura dengan seratus saudaranya ditambah Patih Sengkuni meninggalkan acara perundingan yang istilah kerennya Walk Out.

Peristiwa “Karangan” sastrawan Walmiki ini tidak menampilkan kata atau kalimat fulgar; bahkan Cerita ini ditangan dalang Ki.Enthus yang suka kreatif itu, tidak pernah berani memberikan kalimat fulgar. Kalimat-kalimat fulgar hanya Ki.Entus tempelkan pada para Punakawan dan para Prajurit Rucah yang memang pantas dan layak menggunakan kalimat atau diksi tertentu, tidak pada Raja, Satria, apalagi Brahmana.Pada saat Sidang Ujian Terbuka Seorang Promovendus dalam menjawab sanggahan penguji; sangat lazim menggunakan diksi “Yang Sangat Terpelajar”. Diksi ini sepertinya bersifat khususon diucapkan saat Ujian Terbuka saja, tidak pada acara formal lainnya. Beberapa Kampus di Indonesia pengalaman penulis menguji Kandidat Doktor masih menggunakan diksi tersebut.Semua contoh di atas tidak perlu perlindungan Undang-Undang; bahkan dilanggarpun tidak ada yang bakal melaporkan ke Polisi atas perbuatan tidak menyenangkan. Namun menjadi berbeda saat melekat kepada Anggota Dewan yang dipilih rakyat, yang memiliki perlindungan imunitas oleh Undang Undang, mereka seolah olah dapat berkata dan berbuat apa saja, bahkan melanggar etika kepatutanpun tidak menjadi persoalan, bahkan tidak jarang malah dianggap wajar.Kalau kita telusuri bahwa norma dan etika adalah aras paling tinggi sebagai sarana mengatur perilaku. Pada tataran ini tidak peduli apakah dia Profesor, Anggota Legeslatif, Eksekutif, Yudikatif, Pengusaha, Orang biasa, bahkan Preman sekalipun, mereka harus mematuhi norma dan etika yang berada pada sistem sosial komunitasnya. Bahkan para Narapidanapun di dalam penjara memiliki etika dan norma yang harus dipatuhi oleh sesama mereka.Sebagai contoh sederhana, buang angin itu adalah menyehatkan, namun jangan coba-coba anda buang angin saat berhadapan dengan orang tua anda, mertua anda, atau pada pasamuan agung. Jika itu anda lakukan, maka anda akan dibathin orang anda termasuk tidak beradab. Dengan alasan apapun anda membela diri bahwa buang angin itu hak azazi; namun tetap saja masyarakat sekitar akan mengecap anda sebagai orang yang tidak terdidik.Kita bisa membayangkan jika seorang anggota parlemen yang sering disebut Yang Saya Mulyakan, atau paling tidak Yang Saya Hormati, menggunakan diksi yang tidak patut pada acara formal resmi kenegaraan, dalam menanggapi lawan bicara. Sungguh diluar nalar kelaziman manusia beradab.Seorang Guru Besar yang memiliki kebebasan mimbar akademik untuk mengatakan apa saja demi ilmu yang ilmiah; tetap saja harus memilih diksi yang tepat untuk mahasiswanya; sekalipun mahasiswanya itu lebih patut disebut Cucu; namun Sang Guru Besar tetap terikat norma dan etika untuk memilih diksi yang tepat, sekalipun mungkin saat itu sang Guru Besar sedang marah kepada mahasiswanya.Alasan pembenaran dengan berlindung pada Bahasa Politik atau Bahasa Tarzan sekalipun yang namanya manusia tetap memiliki etika sopan santun dan tata krama. Kata “Kamu” untuk satu komunitas kaum di Sumatera selatan sebagai kata penghormatan kepada orang yang lebih tua, termasuk orang tua dan mertua. Namun penutur itu tidak akan menggunakan diksi tersebut manakala berhadapan dengan kelompok atau orang diluar komunitasnya, karena mereka menyadari wilayah budaya penggunaan diksi tadi.Tidaklah salah jika diusulkan bahwa untuk para anggota terhormat, baik eksekutif, legeslatif yang yudikatif, sebelum memangku jabatan publik sewajarnya mengikuti Kursus Kepribadian terlebih dahulu. Mengingat tuntutan masyarakat akan kesempurnaan semakin hari semakin tinggi.

Perilaku santun, etis dan bahkan estetis tidak ada hubungan langsung dengan Demokrasi. Jangan dimaknai bahwa semakin santun seseorang maka perilakunya semakin tidak demokratis. Kesesatan berfikir serupa ini sangat membahayakan. Kita menghormati hak orang untuk bicara, walaupun kita tidak menyukai cara bicaranya. Karena cara bicara sangat erat kaitannya dengan norma tata krama.

Pelajaran Budi Pekerti yang tahun 60 an diberikan di Sekolah Rakyat (sekarang Sekolah Dasar), ternyata sangat Indonesia; karena diinspirasi oleh Sistem Pembelajaran yang digagas oleh Ky Hajar Dewantara.; Walaupun sistem itu mungkin sudah usang dan tidak sesuai tuntutan jaman, namun jejak jejak nya masih kita dapat lihat sampai sekarang. Parah sepuh yang ikut antri memberikan ucapan selamat pada satu acara, banyak yang menolak halus fasilitas untuk memotong barisan. Tidak mau memotong antrian dokter saat harus berobat di satu pelayanan kesehatan. Buya Syafei Maarif sampai hari ini tidak mau menggunakan fasilitas yang melebihi kapasitasnya. Bandingkan baru menjadi Bupati jika jalan sudah harus pakai sirine yang memekakkan telinga minta pelayanan lebih pada masyarakat yang seharusnya dilayaninya.Puncaknya perilaku yang ditampilkan oleh wakil kita di Senayan adalah puncak untuk berfikir ulang dalam memilih wakil kita, mengingat wakil itu adalah representasi dari yang diwakili. Oleh sebab itu evaluasi ulang kepada kita semua untuk menentukan pilihan manakala waktunya nanti tiba. Jangan sampai alasan demokrasi untuk digunakan melakukan apa saja dan mengesahkan siapa saja untuk berbuat apa saja.Kesesatan berfikir dalam memaknai kebebasan adalah juga merupakan kesalahan berfikir; oleh sebab itu dalam menentukan pilihan yang menyangkut orang atau sistem, harus dilakukan dengan pertimbangan yang cermat, bukan sesaat, apalagi sesat.Kesantunan berbahasa menunjukkan ketinggian budi, yang merupakan petuah generasi masa lalu; masih tepat dijadikan parameter untuk saat ini. Mungkin sudah tidak jamannya membungkukkan kepala atau badan untuk bahasa badan dalam penghormatan; namun diksi sebagai pilihan kata dalam berbahasa; masih menjadi ukuran ketinggian budi seseorang.Sebelum terlambat sudah seharusnya dari sekarang seluruh masyarakat wajib mencermati para wakilnya yang pada waktunya nanti akan dipilih mewakili kita semua, untuk duduk di tempat-tempat yang harus mewakili aspirasi kita; Pemimpin yang amanah adalah mereka yang juga pandai menjaga lisannya. Dan jangan tertipu dengan sandiwara panggung yang mereka gelar, saat mencalon bermanis muka, saat jadi lupa segalanya.Tidak ada mahluk sempurna dimuka bumi ini, namun yang kita cari adalah mereka yang sadar akan ketidaksempurnaannya, sehingga terus dan terus berusaha untuk memperbaiki diri menuju kepada kesempurnaan jati. Tidak membiarkan diri larut pada ketidaksempurnaannya, sehingga bisa mengecewakan kita semua.

Orang yang kita pilih untuk mengemban amanat kita, kita gaji dari pajak yang kita setor kepada negara, sudah selayaknya tidak hanya bekerja baik, tetapi juga berkata santun. Sebgai orang timur yang masih menjunjung tinggi kesopanan dan etika; maka tidaklah salah manakala kita memberi persyaratan akan tegaknya kejujuran dan nilai moral yang tinggi kepada para wakil yang kita pilih. x

Sunday, 25 March 2018

MULTICULTURAL APPROACH BASED EDUCATION MODEL CONTRIBUTION TOWARDS APPRECIATION OF THE VALUES OF LOCAL WISDOM OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN BANDAR LAMPUNG INDONESIA



THE TURKISH 
ONLINE JOURNAL 
OF DESIGN, 
ART AND 
COMMUNICATION 
(TOJDAC)

EDITOR
Assoc.Prof.Dr. Deniz Yengin, İstanbul Aydın University, Turkey
Tel: +90212 4441428 – 25304

EDITORIAL BOARD
Prof.Dr. Atilla Girgin, İstanbul Aydın University, Turkey, atillagirgin@aydin.edu.tr 
Prof.Dr. Bülent Küçükerdoğan, İstanbul Kültür University, Turkey 
Prof.Dr. Christine I. Ogan, University of Indiana, U.S.A.
Prof.Dr. Donald L. Shaw, University of North Carolina, U.S.A.
Prof.Dr. Douglas Kellner, UCLA University, U.S.A.
Prof.Dr. Farouk Y. Seif, Antioch University, U.S.A.
Prof.Dr. Filiz Balta Peltekoğlu, Marmara University, Turkey, filiz@marmara.edu.tr 
Prof.Dr. H.Hale Künüçen, Başkent University, Turkey
Prof.Dr. Haluk Gürgen, Bahçeşehir University, Turkey
Prof.Dr. Hülya Yengin, İstanbul Aydın University, Turkey, hulyayengin@aydin.edu.tr 
Prof.Dr. Jean-Marie Klinkenberg, Liege University, Belgium
Prof.Dr. Judith K. Litterst, St. Cloud State University, U.S.A.
Prof.Dr. Lev Manovich, University of California, U.S.A.
Prof.Dr. Lucie Bader Egloff, Zurich University, Switzerland
Prof.Dr. Korkmaz Alemdar, Atılım University, Turkey
Prof.Dr. Nazife Güngör, Üsküdar University, Turkey, nazifegungor@gmail.com 
Prof.Dr. Nurcay Türkoğlu, Arel University, Turkey
Prof.Dr. Nilgün Tutal Cheviron, Galatasaray University, Turkey
Prof.Dr. Hasan Saygın, İstanbul Aydın University, Turkey, hasansaygin@aydin.edu.tr 
Prof.Dr. Maxwell E. McCombs, University of Texas, U.S.A.
Prof.Dr. Murat Özgen, İstanbul University, Turkey
Prof.Dr. Mutlu Binark, Başkent University, Turkey, mbinark@gmail.com 
Prof.Dr. Özden Çankaya, İstanbul Aydın University, Turkey, ozdencankaya@aydin.edu.tr 
Prof.Dr. Rengin Küçükerdoğan, İstanbul Kültür University, Turkey
Prof.Dr. Selçuk Hünerli, İstanbul University, Turkey 
Prof.Dr. Suat Gezgin, İstanbul University, Turkey
Prof.Dr. Sung-do Kim, Korea University, South Korea
Prof.Dr. Uğur Demiray, Anadolu University, Turkey, udemiray@anadolu.edu.tr 
Prof.Dr. Ümit Atabek, Yaşar University, Turkey, umit.atabek@yasar.edu.tr 
Prof.Dr. Yasemin Giritli İnceoğlu, Galatasaray University, Turkey
Prof.Dr. Zafer Ertürk, Işık University, Turkey
Prof.Dr. Cem Sütçü, Marmara University, Turkey, cemsutcu@yahoo.com 
Prof.Dr. Işıl Zeybek, İstanbul Kültür University, Turkey, i.zeybek@iku.edu.tr 
Prof.Dr. Mehmet Üstünipek, İstanbul Kültür University, Turkey, m.ustunipek@iku.edu.tr 
Prof.Dr. Özer Kanburoğlu, İstanbul Aydın University, Turkey, ozerkanburoglu@aydin.edu.tr
Prof.Dr. Banu Manav, İstanbul Kültür University, Turkey
Assoc.Prof.Dr. Deniz Yengin, İstanbul Aydın University, Turkey, denizyengin@aydin.edu.tr 
Assoc.Prof.Dr. And Algül, İstanbul Aydın University, Turkey, andalgul@aydin.edu.tr 
Assoc.Prof.Dr. Tolga Kara, Marmara University, Turkey, tolgakara@marmara.edu.tr 
Assoc.Prof.Dr. İncilay Cangöz, Anadolu University, Turkey, icangoz@anadolu.edu.tr 
Assoc.Prof.Dr. Nazan Haydari Pakkan, Bilgi University, Turkey nazan.haydari@bilgi.edu.tr 
Assoc.Prof.Dr. Moldiyar Yergebekov, Süleyman Demirel University, Kazakhstan, moldiyar.yergebekov@sdu.edu.kz  
Assoc.Prof.Dr. Ceyda Deneçli, Nişantaşı University, Turkey
Assoc.Prof.Dr. Okan Ormanlı, İstanbul Kültür University, Turkey, o.ormanli@iku.edu.tr 
Assoc.Prof.Dr. Ezgi Öykü Yıldız, İstanbul Kültür University, Turkey
Assoc.Prof.Dr. Rana Kutlu, İstanbul Kültür University, Turkey, r.kutlu@iku.edu.tr 
Assoc.Prof.Dr. Evrim Töre, İstanbul Kültür University, Turkey, e.tore@iku.edu.tr
Assist.Prof.Dr. Arzu Eceoğlu, İstanbul Kültür University, Turkey, a.eceoglu@iku.edu.tr 
Assist.Prof.Dr. Perihan Taş Öz, İstanbul Kültür University, Turkey, p.tas@iku.edu.tr 
Assist.Prof.Dr. Gökmen Karadağ, İstanbul Aydın University, Turkey gokmenkaradag@aydin.edu.tr 






























































The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication - TOJDAC  ISSN: 2146-5193, March 2018 Special Edition, p. 24-30 

Submit Date: 11.02. 2018, Acceptance Date: 27.02.2018, DOI NO: 10.7456/1080MSE/103 Research Article - This article was checked by Turnitin Copyright © The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication 

MULTICULTURAL APPROACH BASED EDUCATION MODEL CONTRIBUTION TOWARDS APPRECIATION OF THE VALUES OF LOCAL WISDOM OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS IN BANDAR LAMPUNG INDONESIA 


Sudjarwo Sudjarwo1, Sunyono Sunyono2, Herpratiwi Herpratiwi3 

1Professor of the Graduate Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Lampung, Indonesia, e-mail: profdrsudjarwo@gmail.com 2Chemistry Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Lampung, Indonesia, e-mail: sunyono.1965@fkip.unila.ac.id. Corresponding Author. 3Education Technology Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Lampung, Indonesia, e-mail: herpratiwi64@yahoo.com. 

ABSTRACT The personality of the learner is determined by the strength and ability of the local genius, so as to enable development in the future. Schools, especially basic education should make a habit of multi-cultural approach to integrate the values of local cultural wisdom in the process of learning in the classroom, extra curricular or student activities. The aim of the research was to examine the contribution of educational model based on the multi-cultural approach to appreciating the value of local wisdom. The research used a quasi experimental, the study population is elementary school students, the sampling is determined by use an error rate of 5%, so that the number of samples is 40 students of the sixth grade. The research was conducted for one semester. The data of local wisdom value appreciation was collected through a questionnaire consisting of 5 aspects, namely: local knowledge, local culture, local skills, local resources and local social process and was analyzed descriptive- quantitatively and statistic by t test. The result of the research is that the application of an education model based on multicultural approach contributed to the appreciation of the value of local wisdom 
Keywords: basic education model, multi-cultural approach, local wisdom 

INTRODUCTION Appreciation of the value of local wisdom is the ability, attitude and behavior of a person in using his or her mind to respond to events, objects or situations of values and norms prevailing in a society of noble values which are believed to be true and becomes a reference for daily action and behavior. Appreciation of the value of local wisdom becomes something that is very important for students in the midst of globalization and the development of limitless science and technology. Local wisdom is an entity that greatly determines the degree and dignity of man in the community and its truth that has become a tradition or a constant throughout the existence of such society. (Al Wasilah, 2009; Erwan, 2012; Keraf, 2010; Ridwan, 2007; Sartini, 2004; Sibarani 2012). 
The value of local wisdom should be instilled in students especially in the formal education environment as a center of culture of competence, basis for character development, personality, high work skills, work culture and learning culture. Formal education should be oriented towards efforts to preserve the culture due to the influx of globalization and foster positive attitudes toward cultural values, and constructive for the creation of social integration in people's lives, (Musanna, 2011). Education is also expected to equip students to have adaptive skills, and promote the intellectual, moral and socio-cultural aspects (Phinney, 1990). Within the value of local wisdom there is a mechanism of living life as reflected in a particular social order and is based on the aspect of life which consists of five dimensions, namely local knowledge, local culture, local skills, local resources and local social processes (Ife , 2002). 
Education can be a means of building a civilization based on the cultural values of the Indonesian nation, to ensure cultural stability and validity (Al Muchtar, 2000). Therefore, it is necessary to reinterpret and revitalize the world of education, so as not to be deprived of the cultural values of the Indonesian nation through an educational program based on a multicultural approach, so that education has the robustness of internal logic, 
The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication - TOJDAC  ISSN: 2146-5193, March 2018 Special Edition 

Submit Date: 11.02. 2018, Acceptance Date: 27.02.2018, DOI NO: 10.7456/1080MSE/103 Research Article - This article was checked by Turnitin Copyright © The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication 

has the power of openness and flexibility in accepting the contribution of thought from external logic. Education that ignores and even abandons local cultural values, will be the cause of the decline of local culture in the lives of generations to come. 
Multicultural-based education is an oriented effort to preserve the culture from the consequences of globalization and foster a positive and constructive attitude for the creation of harmonious social integration in people's lives. In addition, the main goal of a multicultural-based approach to education is to equip students to have an adaptive ability that embraces the intellectual, moral and socio-cultural aspects, as well as an effort to realize the hope of the Indonesian nation’s future as a nation of dignity and having a personal identity. 
Education as the process of intellectual and emotional basic formation of skills to nature and fellow human beings, so that students as successors can appreciate, understand and practice the values or norms by way of inheriting all experiences, knowledge, capabilities and skills that is the background of values and norms of living and life. Education not only serves to conduct transformation, namely the change and renewal of society along with its cultural values, but also functions in inheriting or preserving the cultural values of society and or maintaining the continuity of the existence of society. Values are at the core of a cultural system, and the core culture consists of a series of concepts in general and value systems in particular. This is because there are values, knowledge, and behavior patterns in the community that are still relevant and considered good which must be preserved, (Alwasilah, 2009) through education. Education as a social institution to maintain and preserve local culture so that education will contribute to provide color for the nation in finding its identity. 
Education can not be separated from culture (Vygotsky, 1990; Tilaar, 2002). Education based on multicultural approach will identify the strengths of students contextually to do something with their potential to reduce loss of identity, social sensitivity, and social intelligence. The multi-cultural approach-based education will explore the uniqueness of local wisdom along with the cultural values of the nation that exist in all the members of the school and all the components contained in education, so that education is based on an anthropological, sociological and cultural approach. Thus students will recognized and appreciated the local culture and themselves. Education as a cultural center and a center for dialogue and communication among local residents so that they can exchange ideas, cooperate, be mutually respectful and view differences as potentially useful for all parties. 
Education-based multicultural approach is a process of internalization of cultural values performed in a planned and programmed manner. This education is oriented on the awareness of the importance of local culture as an identity that must be maintained, preserved and developed and used as a guide in life, (Suastra, 2011, Zuriah, 2011). Internalization of local wisdom values can be done through learning that comes from the values of local wisdom with a learning approach and strategy that emphasizes the contextualization of students' knowledge, so as to have an impact on appreciating the value of local wisdom (Amirin, 2012). 
Based on the above, an assessment is conducted that aims to analyze the contribution of education based on a multicultural approach to appreciating the value of local wisdom of elementary school students in Bandar Lampung- Indonesia. 
METHODOLOGY OF RESEARCH The study used a quasi-experimental, aimed at measuring impacts, and creating comparisons in order to deduce changes induced by treatment and to reveal causal relationships that are non-deterministic but only the probability or increasing the probability of occurrence (Cook & Campbell, 1979; Shadish, 1995 Shadis et al, 2002). 
The sample is determined by the strata random sampling technique, by sampling from a population randomly. The population is upper elementary school students of grade IV, V and VI from 6 schools. Samples are obtained directly from the sampling unit, so each sampling unit gets the same opportunity to become a sample, (Roscoe, 1975). The number of samples is determined with the Isaac and Michael Table (Isaac, 1981) with an error rate of 5%, so the number of samples is 40 higher elementary school students, namely grade VI. The study was conducted for one semester, once a week. 
The data of appreciating the value of local wisdom is collected through a questionnaire instrument consisting of 5 aspects, namely local knowledge, local culture, local skills, local resources and local social process, (Ife, 
The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication - TOJDAC  ISSN: 2146-5193, March 2018 Special Edition, p. 24-30 

Submit Date: 11.02. 2018, Acceptance Date: 27.02.2018, DOI NO: 10.7456/1080MSE/103 Research Article - This article was checked by Turnitin Copyright © The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication 

2002) where the statements are self-developed by the authors, namely  local knowledge (8 statements, item numbers 1 to 8), local culture (7 statements, item numbers 9 through 15), local skills (5 statements, item numbers 16 to 20), local resources (5 statements, item numbers 26-30) and local social processes (5 statements, item numbers 26 to 30) as shown in Table 1. 
Table 1 Appreciation of the Value of Local Wisdom Questionnaire Instrument Aspect and Number of Statements 
Aspek Pengukuran No of items 
Local Knowledge 8 items 
Local Culture 7 items 
Local Skills 5 items 
Local Resources 5 items 
Local Social Process 5 items 
Total 30 items 

Table 2 shows the reliability value of the questionnaire instrument aspect of appreciating the value of local wisdom, where the local knowledge aspect earns Cronbach's Alpha value of 0.85, local culture with Cronbach's Alpha value of 0.83, local skill with Cronbach's Alpha value of 0.89, local resources with a Cronbach's Alpha value of 0.87, and the local social process with Cronbach's Alpha value of 0.91. Based on the reliability test, all aspects have Cronbach's Alpha value of 0.967, thus all items contained in the questionnaire are reliable and all tests are internally consistent because they have strong reliability (Maier, Wolf, & Randler, 2016; Bonett & Wright, 2015; Rainsch, 2004). 
Table 2 Wisdom Value Appreciation Questionnaire Instrument Aspect Reliability Value 
Measuring Aspect Cronbach’s Alpha Value 
Local Knowledge 0,85 
Local Culture 0,83 
Local Skills 0,89 
Local Resources 0,87 
Local Social Process 0,91 
Total 0.87 

Table 3 shows that all data after being tested with one-sample of the kolmogorov-smirnov test (Yu et al., 2008) is normal. The local knowledge aspect is 0.212, local culture aspect is 0.228, local skills aspect is 0.235, local resource aspect is 0.237 and local social process aspect is 0.223, all with significance value of 0.20, this indicates that the sample is normally distributed. 
Table 3 Data normality test results 
The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication - TOJDAC  ISSN: 2146-5193, March 2018 Special Edition 

Submit Date: 11.02. 2018, Acceptance Date: 27.02.2018, DOI NO: 10.7456/1080MSE/103 Research Article - This article was checked by Turnitin Copyright © The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication 

Measuring Aspect Komogorov Smirnov Significance Value 
Local Knowledge 0,212 0,20 
Local Culture 0,228 0,20 
Local Skills 0,235 0,20 
Local Resources 0,237 0,20 
Local Social Process 0,223 0,20 

Based on a homogeneity test using oneway Anova (Donald, 2010), the sig. 0.100> 0.05 value was known, indicating that the sample is homogeneous. The data was analyzed by paired sample t-test because of using one sample t-test design (Donald, 2010). Step-by-step data analysis is seen in Table 4. 
Table 4 Steps of data analysis 
Steps Purpose Analysis 
1 Reliability Assesment Chronbach’s Alpha test 
2 Reationships among variables Correlation analysis 
3 Difference test before and after treatment 
Paired Sample t-test 

RESULTS OF THE RESEARCH The mean and standard deviation of 5 aspects of appreciating the value of local wisdom has been compared. Table 5 shows that the highest average is the local knowledge aspect (6,725 ± 1.109), followed by local culture with an average of (6,575 ± 0,594), local social process aspect with an average of (4,9 ± 0,303), local resource aspect with an average score of (4.5 ± 0,679) and local resource aspect with average value (4,45 ± 0,679). Of the three categories, the lowest is the aspect of local resources and the highest is the knowledge aspect. 
Table 5. Mean and standard deviation of character value Character Value Mean Std. Deviation 
Local Knowledge 6,725 1.109 
Local Culture 6,575 .594 
Local Skills 
Local Resources 
Local Social Process 
4,45 
4,5 
4,9 
.577 
.679 
.303 

Differences of Student Pre-Tests and Post-Tests Values on the Appreciation of the Value of Wisdom  Table 6 shows the results of descriptive statistical analysis, the pre-test average was 55.22 ± 4,30 with an average error standard of 0.867 and post-test average of 76.77 ± 4.322 with a standard error of 0.867. 
The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication - TOJDAC  ISSN: 2146-5193, March 2018 Special Edition, p. 24-30 

Submit Date: 11.02. 2018, Acceptance Date: 27.02.2018, DOI NO: 10.7456/1080MSE/103 Research Article - This article was checked by Turnitin Copyright © The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication 
28 
Table 6. Paired samples statistics  Mean N Std Deviation Std Error Mean 
Pair 1 Pre-test 
           Post-test 
55,22 
76,77 
40 
40 
4,300 
4,322 
.867 
.867 

Table 7 shows the average difference test result between pre-test and post-test values. The test results show that the value of t was  -17.590 with a sig of (2 tailed) 0,000. This shows that there is a difference between the pre-test and the post-test value and because the value of t was found to be negative, it indicates that the posttest was better than the pre test. Thus there were differences in appreciation of the value of the wisdom by students before and after being taught with the multicultural approach based education model. After being taught with a model of education based on a multicultural approach, appreciation of the value of local wisdom of higher elementary school students of class VI was higher than the previous level of appreciation. 
Table 7. Paired samples test 


Paired Differences t Df 
Sig (2tailed) 
   
95% Confidence Interval of the Difference    

Mean 
Std Deviation 
Std Error Mean Lower Upper    
Pair 1. 
Pre-test– Post-test 

-9,200 2,536 4,01 -10,241 -8,159 17,590 
78 .000 

DISCUSSION Based on the analysis, it appears that the appreciation of the value of local wisdom of elementary school students was higher after being taught with a model of education based on a multicultural approach than before. Thus the multicultural approach based education model proved to be able to shape the appreciation of the local wisdom of students. The educational model based on multicultural approach was capable of increasing the students’ appreciation of local wisdom values because with that model the students were instilled with locality learning, local cultures, local skills, local resources and local social processes (Ife, 2002). With a model of education based on a multicultural approach, the students experienced an internalization process of local wisdom values so that appreciation of such values would emerge. 
With an educational model based on a multicultural approach, the value of local wisdom would be able to be taught with a hierarchical syntax and tailored to the character of the student. If a multi-cultural approach-based educational model is used consistently, students will be familiarized to recognize, accept, and respond to local wisdom and ultimately appreciate it well. The multi-cultural approach-based education model provides 
The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication - TOJDAC  ISSN: 2146-5193, March 2018 Special Edition 

Submit Date: 11.02. 2018, Acceptance Date: 27.02.2018, DOI NO: 10.7456/1080MSE/103 Research Article - This article was checked by Turnitin Copyright © The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication 

opportunities for students to appreciate the value of local wisdom and develop skills in ways of creating something based on local wisdom, which simutaneously also develops knowledge towards such values. 
There are 5 aspects that make up the value of local wisdom, namely local knowledge, local culture, local skills, local resources and local social processes (Ife, 2002). Table 5 shows that the aspect of local knowledge is more dominant in shaping appreciation toward the value of local wisdom, followed by local culture, local social processes, local resources and social skills. This indicates that the knowledge aspect will affect the appreciation of the value of local wisdom. It turns out that the higher or lower levels of knowledge of local values will cause higher-lower appreciation of the value of local wisdom. This study indicates that the appreciation of the value of local wisdom is shaped by the knowledge aspect of the local wisdom values which were conditioned by the teacher through a model of education based on a multicultural approach. The steps of the multi-cultural approach-based educational model will train students to identify as well as being able to internalize such values. 
The commitment of teachers to use a model of education based on a multicultural approach in teaching will contribute greatly to the appreciation of the local wisdom values of students. Habits made with syntax that incorporates the values of local wisdom materials will stimulate students to receive and appreciate the value of local wisdom. Instilling local wisdom values using a multi-cultural approach based education model that is not integrated with the school system and culture is unlikely to succeed (Al Hamdani, 2016). 
CONCLUSION The educational model based on multicultural approach as an intervention to increase the appreciation of the values of local wisdom of students in elementary school. The appreciation of the values of local wisdom is built from aspects of local knowledge, local culture, local skills, local resources and local social processes. Therefore it is necessary to re-design and re-formulate the syntax of education model based on multicultural approach as an important variable in appreciating the values of local wisdom. It is also necessary to develop further research, especially on the questionnaires used to measure the appreciation of the values of local wisdom in order to increase standardization, which contains a more comprehensive aspect. 
KNOWLEDGEMENT Researchers would like to thank the Institute for Research and Community Service, University of Lampung, which has provided funding this research through Competitive Research Grant scheme Year 2015. Thanks also goes to the head writer and high school chemistry teachers in Lampung Indonesia that has helped smooth the study. 
REFERENCES Al Hamdani, D. (2016). The Character Education In Islamic Education Viewpoint. Jurnal Pendidikan Islam, 1(1), 98-109. Al Muchtar, S. (2001). Pendidikan & Masalah Sosial Budaya (Education & Socio-Cultural Issues). Bandung: Gelar Pustaka Mandiri Press. Alwasilah, A. C, et al. (2009). Etnopedagogi: Landasan praktek pendidikan dan pendidikan guru (Etnopedagogi: The cornerstone of teacher education and education practice). Bandung: Kiblat Buku Utama Press. Amirin, T. M. (2012). Implementasi Pendekatan Pendidikan Multikultur Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia (Implementation of Contextual Multicultural Education Based Approach to Local Wisdom in Indonesia). Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan aplikasi, I(1). Bonett, D. G., & Wright, T. A. (2015). Cronbach's alpha reliability: Interval estimation, hypothesis testing, and sample size planning. Journal of Organizational Behavior, 36(1), 3-15. Cook, DT & Campbell, DT. (1979). Quasi Experimentation: Design & Analysis for Field Settings. Houghton Mifflin Company: Boston. Donald Ary. Lucy Cheser Jacobs, & Chris Sorensen. (2010). Introduction to Research in Education: Eight Edition. Canada: Nelson Education ltd.  Erwan Baharudin, (2012). Kearifan Lokal, Pengetahuan Lokal dan Degradasi Lingkungan (Local Wisdom, Local Knowledge and Environmental Degradation). Available on: http://www.esaunggul.ac.id/epaper/kearifan-lokal-pengetahuan-lokal-dan-degradasi-lingkungan   Ife, J. (2002). Community Development, Community-Based Alternatives in an. Age Of Globalisations. Australia: Longman Pearson Educations. 
The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication - TOJDAC  ISSN: 2146-5193, March 2018 Special Edition, p. 24-30 

Isaac, S. & Michael, W. B. (1981). Handbook in Research and Evaluation for Education Sciences (2nd ed.). San Diego 92107: EdITS Publishers.  Keraf, A. S. 2010. Etika Lingkungan Hidup (Environmental Ethics). Jakarta: Penerbit Buku Kompas Press.  Maier, U., Wolf, N., & Randler, C. (2016). Effects of a computer-assisted formative assessment intervention based on multiple-tier diagnostic items and different feedback types. Computers & Education, 95, 85-98. Musanna, A. (2011). Rasionalitas dan Aktualitas Kearifan Lokal sebagai Basis Pendidikan Karakter (Rationality and Actuality of Local Wisdom as Character Education Basis). Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 17(5), 588-598 Phinney Jean S. And Linda Line Alipuria. (1990). Ethnic Identity In College Student From Four Ethnic Groups. Journal of Adolescence, 13, 171-183. Roscoe, J.T. (1975). Fundamental Research Statistic for The Behavior Sciences. (2nd,ed), Holt. New York: Rinehart and Winston.  Ridwan, Nurma A. (2007). Landasan Keilmuan Kearifan Lokal (Scientific Knowledge Base). Jurnal Studi Islam dan Budaya. Vol. 5, (1), 27-38 Sartini. (2004). Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafat (Excavating Local Wisdom Nusantara A Study of Philosophy). Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37, Nomor 2 pp: 111-120. Rainsch, S. (2004). Dynamic Strategic Analysis: Demistyfying Simple Success Strategies.Wiesbaden: Deutcscher Universitasts-verlag. Shadish, W. R. (1995). Philosophy of Science an the Quantitatve-Qualitative Debates: Evaluation and Program Planning, 18,1. Shadish, W. R., Cook, T. D., & Campbell, D. T. (2002). Experimental and Quasi-Experimental Design for Generalized Causal Inference. Houghton Mifflin Company: Boston. Sibarani, R. (2012). Kearifan Lokal: Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan (Local Wisdom: The Nature, Roles, and Methods of Oral Tradition). Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). Suastra, I. W., Tika, K., & Kariasa. (2011). Efektivitas Model Pembelajaran Sains Berbasis Budaya Lokal untuk Mengembangkan Kompetensi dasar Sains Berbasis Budaya Lokal untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Saina dan Nilai Kearifan Lokal di SMP (Effectiveness of Local Culture-Based Science Learning Model to Develop Basic Competence of Local Culture-Based Science to Develop Basic Competence of Saina and Value of Local Wisdom in Junior High School). JPPP Lemlit, 5(3). Tilaar H.A.R. (2002). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia (Education, Culture, and Civil Society of Indonesia). Bandung: Rosdakarya Press. Vigotsky and Education. (1990). Instructional Implications and Applications of Sociohistirical Psychology. Cambridge: New York. Yu, H., Zheng, Zhao, B, Y., & Zheng, W. (2008). Understanding User Behavior in Large Scale Video on Demand Systems. In L Song (ed) Collaboration: New York Zuriah, N.  (2011). Model Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal dalam Fenomena Sosial Pasca Reformasi di Perguruan Tinggi (Multicultural Development Model of Multicultural Education based on Local Wisdom in Post-Reform Social Phenomenon in Higher Education). Jurnal Penelitian Pendidikan. 12(1). 75-86 


Submit Date: 11.02. 2018, Acceptance Date: 27.02.2018, DOI NO: 10.7456/1080MSE/103 Research Article - This article was checked by Turnitin Copyright © The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication 

Monday, 26 February 2018

CATATAN KECIL BUAT ADEHAM

Siang hari pukul 14.00 bunyi alat komunikasi dan terbaca dengan jelas bahwa pada hari Rabu ini tadi pukul 13.50 telah berpulang kerahmatullah Hi.Adeham bin Hi.Andok Asisten II Sekdaprov Lampung di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Kilasan peristiwa masa lalu kembali membayang bersama beliau tatkala masih sebagai staf Biro Sosial Politik di Pemerintah Daerah. Semua perijinan penelitian harus melalui meja beliau. Sekalipun beliau alumni FKIP Unila; namun penulis tetap mengambil jarak untuk kepentingan dinas. Tetapi apa yang terjadi; beliau memperlakukan menggunakan pendekatan humanis; bahkan sejak itu kami jarang menggunakan bahasa resmi, tetapi bahasa daerah atau bahasa Ibu.

Pada waktu beliau menjadi Kepala Dinas yang terkenal panas kursinya, justru beliau menemui penulis mengutarakan maksudnya ingin melanjutkan ke Pascasarjana Unila, dengan permohonan untuk tidak diberi perlakuan istimewa. Ini merupakan sesuatu yang aneh, biasanya pejabat tinggi didaerah ini meminta perlakuan khusus untuk hal-hal tertentu. Beliau mengatakan ingin ikut test akademik, wawancara dan sebagainya beliau ikuti sebagaimana layaknya calon mahasiswa lainnya. Bahkan setelah diterima beliau ikut Masa Orientasi Studi Mahasiswa baru yang di Pascasarjana dikenal dengan PSAP, hadir dan mengikuti semua rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir. Kebetulan beliau kuliah bersama istri; maka tampak sekali kekompakan pasangan ini dalam segala hal.

Demikian juga dengan penyelesaian tugas, termasuk kehadiran, beliau sangat patuh dengan waktu; oleh sebab itu mahasiswa lain seangkatannya menjadi malu hati; seorang Kepala Dinas yang begitu luar biasa kesibukannya masih bisa hadir tepat waktu, melakukan presentasi tugas dan lain sebaginya. Sesuatu yang menarik lagi beliau datang ke Kampus sangat jarang sekali diantar sopir; lebih banyak beliau mengendarai sendiri kendaraannya. Dengan ketekunan ini tidak berkelebihan jika beliau dapat menyelesaikan studinya tepat waktu dengan Indek Prestasi Sangat Memuaskan.

Sisi humanis yang lain yang beliau tampilkan; setiap ada undangan keluarga dengan tidak memandang status sosial, beliau akan hadir dan itupun tidak minta prioritas. Bahkan pada waktu acara pemberian ucapan selamat, beliau ikut baris dengan tertib dan sangat jarang mau diberi perlakuan istimewa untuk mendahului barisan; apalagi jika dilihat didalam barisan itu ada gurunya, seniornya, maka bisa dikatakan pasti beliau akan menolak perlakuan khusus itu.
Sisi lain dari kehidupan beliau ialah atensi yang besar terhadap beban orang lain yang meminta bantuan. Beliau akan dengan sungguh-sungguh menyimak paparan orang lain dihadapannya yang memohon bantuan. Jika persoalan itu tidak dalam jangkauannya; maka beliau akan memediasi pihak lain agar bisa membantu. Hal ini tidak dibiarkan saat itu saja, akan tetapi beliau terus memantau sampai persoalan selesai. Beliau mau ditemui di mana saja termasuk di Kantor; namun harap maklum jika tidak ada perjanjian untuk jumpa, beliau agak sulit ditemui karena memang jadwal beliau begitu padat, sampai-sampai kendaraan dinas beliau bak kantor berjalan; dari keperluan dinas sampai keperluan pribadi beliau siapkan di dalam kendaraan.

Ada kebiasaan lain yang beliau lakukan yaitu senang mendatangi pengajian. Jika banyak pejabat menghadiri atau menyelenggarakan pengajian diberi muatan politik; hal itu tidak berlaku buat Adeham. Adeham sangat relijius; tidak jarang dalam Kunjungan Kerja di daerah beliau didaulat untuk menjadi imam sholat atau khotib jumat; dengan senang hati beliau lakukan. Suara khas beliau yang sedikit parau tapi lembut itu dalam melafaskan kalimah kalimah keilahian sangat enak didengar, dan kekhasan khotbah beliau tidak pernah menjelekkan pihak lain, siapapun dia.

Ada satu segmen kehidupan; tatkala bertemu Adeham di Bandara Soekarno-Hatta yang sama-sama ingin pulang ke Lampung; pesawat pada waktu itu karena alasan cuaca terpaka keberangkatannya tertunda. Waktu yang cukup luang itu bukan beliau habiskan diruang khusus yang bisa dimanfaatkan oleh pejabat seperti beliau. Ternyata Adeham tetap memilih berbaur bersama masyarakat; waktu hal itu ditanyakan, ternyata jawabannya sangat menyentuh......biarlah di sini saja....biar sama-sama merasakan bagaimana capeknya menunggu...... Dan hal ini diucapkan dengan serius tanpa dibuat-buat atau istilah sekarang pencitraan. Beliau tidak menunjukkan roman muka kesal atau kecewa; bahkan cenderung dingin-dingin saja.

Sosok Adeham dari sisi lain; suatu peristiwa beliau harus mengikuti apel bulanan; karena sesuatu hal beliau tidak membawa pakaian seragam untuk hari itu. Dari pada salah kostum Adeham memilih tidak ikut upacara, dan yang seharusnya dia bisa memarahi Sopir kendaraan dinas yang selama ini mengingatkannya, tetapi hari itu lupa. Dengan santai beliau mengatakan bahwa Sopir beliau masih manusia yang juga punya lupa seperti beliau; dan marah bukan menyelesaikan masalah, justru akan membuat masalah.

Terakhir beliau diberi tugas untuk menjadi “panglima” pembebasan tanah calon Jalan TOL . Banyak sekali hambatan yang beliau temui di lapangan. Pada satu kesempatan disuatu acara kami duduk berdampingan; beliau dengan serius menceritakan bagaimana suka dukanya menjadi juru bebas, yang terkadang harus berposisi sebagai tak bebas. Setiap persoalan yang muncul dipermukaan, terutama yang muncul dimedia masa; tanpa ambil waktu Adeham langsung menyelesaikannya dengan gaya lembutnya tapi ligat. Jalan TOL yang lurus inilah melambangkan kepribadian Adeham; yang tidak neko-neko dalam bekerja. Beliau tidak dapat mendampingi Presiden saat menggunting pita peresmian bersama Gubernur; semoga dengan jalan TOL beliau menuju ke alam keabadian, menjumpai Sang Kholik.

Banyak kalangan kehilangan beliau; talenta yang beliau miliki mampu menembus badai gonjang-ganjing politik lokal. Sekian pimpinan berganti, beliau tetap bisa melayani. Sekian peristiwa memusar daerah ini; tetapi Adeham tetap bisa menepi. Tangan dinginnya mampu menangani dan mengurai persoalan pelik di Bumi Ruwajurai ini. Tidak ada orang yang merasa dimenangkan, dan tidak ada orang yang merasa dikalahkan.

Kepiawaiannya menembus batas menjadikan Adeham berselancar diatas badai. Pengalaman jadi pegawai rendahan sampai menjadi Pegawai Tinggi, tidak menggoyahkan sendi-sendi keimanan dan kemanusiaannya. Keseriusannya tidak menjadikannya kaku, keluwesannya tidak membawanya kesan mengabaikan. Walau kodrat manusia memiliki keterbatasan, untuk Adeham keterbatasannya itulah kematiannya.

Selamat Jalan Pak Adeham, jasamu menjadikan amal membawamu ke Surga Janatunnaim, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Semoga kita yang ditinggalkan mampu memetik suritauladan dari sosok seorang Adeham.

  

Sunday, 21 January 2018

PEMENANG atau PECUNDANG

PEMENANG atau PECUNDANG
Sudjarwo
Guru Besar FKIP Unila

Tertulis dalam Kitab Mahabarata tatkala perang Baratayudha Basukarna atau populer dengan nama Prabu Karna; sebagai Satria anak dewa Surya dengan Ibu Dewi Kunthi yang juga Ibunya Para Pandawa; sebelum Perang Besar Baratayudha; terlibat pembicaraan keras bersama Prabu Kresna yang dikenal sebagai arsiteknya perang besar itu, sesaat setelah gagal menjadi Duta Pamungkas untuk mengembalikan Hastinapura ketangan Pandawa tanpa peperangan. Dalam dialog kedua Satria Agung itu Prabu Kresna menawarkan kepada Karna untuk bergabung ke Pandawa; walaupun dalam hati beliau sudah mengetahui bahwa itu tidak mungkin; karena dalam Kitab Jitabsara Karna akan mati di peperangan terkena Panah Pasopatinya Harjuna. Kresna hanya ingin mengukur sejauh mana tekad bulat Karna untuk maju perang sebagai Senapati Agung. Ternyata jawaban Karna sungguh luar biasa; beliau mengatakan; Biarlah Aku menjadi Pecundang bukan Pemenang, asalkan Perang Baratayudha ini jadi berlangsung Karena perang itulah membuat kedamaian akan terjadi.

Adegan itu mengingatkan kita semua sebentar lagi negara ini akan melangsungkan lakon politik, yaitu melakukan Pemilihan Kepala Daerah di sekitar 171 daerah pemilihan. Mungkin selama kemerdekaan dari tahun 1945, baru ini terjadi pemilihan kepala daerah yang begitu besar. Tentu dalam perhelatan pemilihan itu akan ada yang menang dan yang kalah. Jumlah pemenang sudah dapat diketahui yaitu 171 Orang atau pasangan, dan ini adalah lumrah karena setiap daerah pemilihan hanya mengeluarkan satu pasangan sebagai pememang. Dan tidak mungkin di satu daerah pemilihan akan keluar dua pasangan pemenang kemudian dilantik kedua pasangan tersebut. Pada cerita fiksipun hal itu tidak akan ditulis oleh pengarangnya.

Hal yang menarik adalah bukan pada pemenangnya. Cerita kemenangan adalah cerita yang linier, yaitu berjuang (bahkan dengan cara apapun), kemudian konflik, menang, terakhir syukuran, dan dilanjutkan hitung-hitungan habis berapa modal, dan bagaimana cara mengembalikan hutang. Hal itu sudah menjadi pakem banget, menggunakan istilah anak-anak jaman Now. Justru yang menarik dikaji adalah bagaimana nasib mereka yang kalah, apa yang mereka lakukan, guncangan apa yang mereka rasakan. Tidak pernah terlintas dipikiran kita, apa yang terjadi setelah seseorang kalah bertarung dalam pemilihan kepala daerah.
Varian perilaku akibat kekalahan pertarungan ini begitu beragam; ada yang bersifat personal, ada juga yang bersifat sosial. Kategori yang bersifat personal diantaranya murung, menjadi tertutup, menyendiri, dan yang paling mengerikan jika sampai pada gangguan kejiwaan. Sekedar mengingat kembali, pada masa lalu ada salah seorang calon Bupati yang kalah pemilihan, kemudian menjadi terganggu kejiwaannya, dan menunjukkan perilaku yang tidak wajar, sehingga lupa busana.

Sedangkan yang bersifat sosial dapat dilihat dari perilaku yang menjadi infulsif, menarik diri dari pergaulan, bahkan menarik semua bantuan yang diberikan pada waktu pencalonan. Ingatan kita masih segar ada bakal calon yang kalah menarik bantuan karpet untuk masjid yang dia berikan pada waktu pencalonan, bahkan ada calon yang meminta uangnya kembali yang mereka berikan pada waktu kampanye. Pukulan ini akan semakin menjadi-jadi manakala keseimbangan rumah tangga juga memberi kontribusi untuk menuju kehancuran. Begitu menerima kekalahan, ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga; pilihan kalah istripun minggat.

Rasa kesendirian dan rasa bersalah menyelimuti perasaan bagi mereka yang tidak beruntung dalam pemilihan; adalah kondisi psikologis yang secara perlahan tetapi masif bisa menyerang siapa saja yang ada pada posisi ini. Menjadi berbahaya jika kondisi ini berlangsung lama, tanpa disadari oleh penyandangnya masuk ke alam bawah sadarnya. Sehingga berpengaruh pada kondisi kejiwaan dalam kurun waktu yang cukup lama. Untuk yang satu ini pernah kita dengar ada bakal calon yang tidak jadi menjadi calon kemudian  gelap hati, bahkan gelap mata.Kemana-mana membuka aib saudaranya.

Secara sosiologis sebenarnya kita harus berterimakasih kepada mereka yang berada pada posisi ini; karena sebenarnya pahlawan dalam pemilihan itu bukan yang menang, tetapi justru yang kalah; karena mereka telah berkorban untuk keberlangsungan proses demokrasi, dan proses keberlangsungan suatu rezim atau apapun namanya. Kita semua harus berterimakasih kepada mereka yang sudah menyiapkan diri maju kepemilu kada, atau pemilihan apapun; karena akibat memilih satu diantara sekian pilihan, berarti ada yang tidak terpilih, dan kita berterimakasih ada orang yang siap menjadi “tumbal” untuk tidak terpilih karena aturan sistem harus demikian.

Kata lain bahwa pahlawan demokrasi itu bukan yang menang, akan tetapi yang sudah sanggup kalah, merekalah sebenarnya pahlawan sejati dari demokrasi itu. Mereka sudah sanggup menggorbankan waktu, dana/biaya, harga diri/martabat, dan perasaan, untuk menjadi tumbal demokrasi. Mengikuti proses pemilihan yang  sangat melelahkan, terutama aspek kesiapan dana, mental, dan spiritual, ditambah kesiapan keluarga.

Keluarga perlu dipersiapkan, terutama keluarga inti, karena harus menanggung semua konsekwensi dari apa yang terjadi. Jika menang harus siap di bully, jika kalah siap di maki. Pilihan sulit ini menjadi semakin ribet jika menyimak banyak kasus akibat ketidak siapan keluarga; justru malapetaka yang diperoleh.

Pengorbanan untuk siap kalah, tidak jarang hanya sebatas bibir saja; begitu berhadapan dengan kenyataan, ternyata kekalahan itu menyakitkan. Kesiapan menerima kekalahan ternyata tidak termasuk yang dipersiapkan selama ini dalam pemilihan oleh para calon. Dibenaknya yang ada menang, menang, dan menang. Kondisi ini dibumbui lagi oleh hasutan hasutan orang sekeliling yang ingin mencari keuntungan. Pada saat pencalonan pahlawan-pahlawan dadakan ini bermunculan disekitar calon. Jika calon yang diusungnya menang, maka pahlawan ini akan berbondong-bondong datang dengan membawa panji-panji aku pahlawannya, ucapan klasik SI anu itu menang karena aku. Sebaliknya jika kekalahan yang terjadi, semua mereka hilang bak ditelan bumi. Kata bijak yang lumrah keluar adalah..bersabarlah, atau kasihan. Selebihnya mereka akan meninggalkan calon dalam kesendirian dan kesunyian.

Hari-hari sunyi akan dijalani oleh seorang calon yang gagal, hanya istri yang sholeha lah dan atau suami yang sholeh lah yang mampu menjadi teman dikala seperti ini. Ada seorang teman yang mengalami kondisi ini mengatakan lalatpun sungkan hinggap kebadannya, nyamuk yang suka menghisap darahpun menghindar untuk mendekat.

Oleh sebab itu melalui tulisan ini ingin disampaikan kepada para petarung; pertama, kami semua mengucapkan terimakasih kepada kalian yang telah sudi mau menjadi petarung, karena dengan adanya kesediaan anda bertarung, maka proses demokrasi berjalan. Kedua, siapkanlah disudut hati anda ruang jika kekalahan terjadi pada anda; karena hukum sosial akan menggilas dengan kejam, tidak perduli apakah anda menjadi pihak yang menang atau pihak yang kalah. Ketiga, bertarunglah secara jantan, berikan ucapan selamat pada pemenang dan undur diri tanpa harus menunduk apalagi melempar handuk.

Resi Bisma sebagai tamsil, saat dia menghadapi kekalahan karena anak panah Srikandi menghujam seluruh tubuhnya tanpa celah, menjelang ajal dia minta bantal untuk menyangga kepalanya, tapi bantal yang dia minta bukan yang empuk dari kapuk pilihan, akan tetapi hulu panah yang ditancapkan dikiri-kanan kepalanya. Tamsil ini menunjukkan bahwa kekalahan harus dihadapi dengan jiwa kesatria. Tidak menjadi cengeng dengan menganggap rival anda itu musuh bebuyutan selama hidup yang harus anda enyahkan; ingat masing-masing kita punya tugas kehalifahan dimuka bumi ini yang sudah ditetapkan oleh Sang Kholik.

Akhirnya semua daya upaya yang dilakukan oleh manusia berakhir pada ketentuan garis nasib yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Suratan tangan yang telah tertulis sebelum manusia lahir akan menjadi titik akhir dari apa yang telah diupayakan oleh manusia.  Firman Suci sudah mewartakan bahwa manusia berhak atas upaya; ketentuan ILLAHI adalah segalanya. Selamat Berjuang Kawan, menjadi Pemenang atau Pahlawan; asal jangan jadi Pecundang.