Monday, 3 April 2017

HARI RAYA NYEPI – PELANGI DARI LAMPUNG

Pada saat melihat kalender tertanggal 28 Maret ternyata berwarna merah, mata nanar ke bawah melihat catatan kaki, ternyata tanggal tersebut adalah Hari Raya Nyepi. Sepintas tidak ada yang aneh, akan tetapi lamunan melayang kepada peristiwa beberapa tahun lalu, dimana saat itu salah satu orang dekat penulis bernama Nengah menjadi tangan kanan penulis dalam menggerakkan roda kegiatan akademik. Saat seperti ini beliau meminta ijin untuk tidak ngantor beberapa hari guna mempersiapkan ubo rampe menyambut Hari Raya Nyepi.

Sosok satu ini sangat perhatian dengan sesama teman sekalipun berbeda keyakinan, sebagai contoh jika yang muslim mendapatkan Hadia Lebaran menjelang Idul Fitri, maka mereka yang beragama Nasrani diberikan Hadiah Natal menjelang Perayaan Natal 25 Desember, namun pada saat Hari Raya Nyepi, beliau tidak memberikan apapun kepada teman yang beragama Hindu seperti dirinya. Begitu ditanya, alasannya justru nyepi itu menjauhi semua urusan dunia.

Kata “Nyepi” sendiri dalam kontek bahasa adalah sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan. Hari Raya Nyepi yang merupakan Tahun Baru dari saudara kita yang menganut Agama Hindu, memulai awal tahunnya dengan melakukan kegiatan dengan tidak melakukan kegiatan apapun. Begitu saklarnya hari tersebut; maka semua kegiatan kehidupan di Pulau Bali ditiadakan, bahkan Bandara akan ditutup kecuali untuk kegiatan darurat.

Demikian juga halnya di Lampung, semua pemukiman saudara kita yang beragama Hindu, khususnya saudara kita dari Bali, akan melakukan kegiatan yang sama; yaitu melakukan “nyepi” dari seluruh kegiatan kehidupan selama satu hari satu malam. Desa atau pemukiman merekapun dijaga “Pecalang” atau petugas adat yang khusus menjaga ketentraman wilayahnya dan untuk mentaati ajaran Hindu.

Penulis tidak ingin masuk pada wilayah aqidah, karena bukan pada media ini tempatnya, akan tetapi ada sisi menarik dari peristiwa Hari Raya Nyepi ini dilihat dari perspektif sosiologis, dengan kacamata “keberagaman”, yang pada akhir-akhir ini sering mulai terusik.
Provinsi Lampung yang sudah lama menerima warga lain dari luar daerah bahkan luar pulau, merajut perbedaan dalam kebersamaan. Hari Besar agama apapun yang diakui oleh negara, semua ada di Lampung, dan dapat berjalan sebagaimana adanya. Kondisi harmoni seperti ini sudah sangat lama terjadi. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa kunci dari semua ini. Mengapa di Provinsi yang beragam seperti ini tidak pernah terjadi benturan dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan.

Kata kuncinya adalah sikap terbukanya masyarakat lampung terhadap pendatang. Tidak peduli apa keyakinan mereka, sejauh mereka para pendatang mau menghormati eksistensi dari para warga lampung; maka segala sesuatu dapat dibicarakan. Sikap kesetaraan seperti ini memungkinkan proses pemahaman melalui pertukaran nilai akan terjadi.
Sisi lain yang juga mendukung ialah pemukiman yang tidak bercampur dengan perkampungan warga asli, justru kaum pendatang seolah-olah diberi hak ulayat tersendiri secara otonom di suatu wilayah tertentu. Mereka bertumbuh dan berkembang sesuai dengan hukum sosialnya masing-masing. Kondisi ini menciptakan suasana interaksi setara; sehingga ada semacam rasa saling menjaga garis sosial masing-masing.

Pada generasi pertama’ kedua dan ketiga tampaknya masih sangat terjaga; namun begitu pada generasi keempat, seiring perkembangan kehidupan yang semakin komplek, lahan semakin menyempit, jumlah penduduk semakin berlipat, hubungan sosial tidak lagi harus berhadap muka secara langsung tetapi menggunakan media yang bersifat masal dan masif, kondisi geopolitik yang semakin libral; maka benturan sosial mudah sekali tersulut. Variabel pemicunya sangat bereragam.

Ada sesuatu yang berkembang kearah positif secara sosiologis sedang berlangsung di Provinsi Lampung, yaitu pada generasi masa kini persoalan primordial secara perlahan mulai terkikis. Kondisi ini terjadi karena disumbang oleh tingginya amalgamasi yaitu pernikahan silang antarkelompok akibat dari terbukanya interaksi yang terbangun.  Semula konsep “kami” berorientasi pada subetnik, sekarang melampaui wilayah itu dan lebih cenderung pada konsep kepentingan bersama. Asimilasi dan akulturasi berjalan lambat tapi pasti dan bahkan cenderung sempurna, oleh karena itu gejolak sosial di daerah ini cenderung bersifat lokal, tidak menjadi masif.

Akibat lanjut toleransi akan tumbuh secara perlahan tapi pasti. Pada acara-acara keagamaan bentuk toleransi ini begitu tampak. Pada acara Hari Raya Nyepi seperti ini, warga non Hindu tidak akan mau melewati jalan desa dimana warganya ada penganut Hindu, mereka tidak ingin mengusik saudaranya yang sedang melakukan “hamati geni, hamati laku”. Bentuk toleransi yang begini pada masyarakat Lampung berdasarkan penelusuran sejarah sudah lama terjadi. Bahkan tidak ditemukan catatan “cawe-cawenya” pemerintah untuk mengatur, akan tetapi murni kesadaran warga sendiri.

Keserasihan sosial ini dapat kita lihat bagaimana pasangan calon yang maju pada pemilihan kepala daerah. Tampak sekali harmonisasi sosial yang ditampilkan oleh para pelaku politik untuk mendulang suara didaerah pemilihan. Jargon dan bahasa lokal menjadi dominan untuk membangkitkan sentimen politik. Namun pada kenyataannya emosi sosial ini tidak dapat membendung pemilihan yang berdasarkan variabel kekerabatan dan ikatan emosional.
Ternyata mosaik yang ditampilkan Lampung tampak begitu indah. Perayaan keagamaan, termasuk didalamnya “Nyepi”, adalah bentuk dari “Pelangi dari Lampung” yang tidak hanya elok dipandang, tetapi juga bisa dijadikan contoh. Keberagaman serupa ini merupakan karunia keilahian yang luar biasa kekuatannya.

Namun demikian ada tugas yang belum selesai kita lakukan, salah satu diantaranya ialah melakukan perawatan sosial terhadap mozaik sosial ini. Jika ini tidak kita lakukan dengan disain yang baik dan kehati-hatian yang tinggi, maka tidak jarang akan berubah menjadi thsunami sosial, dalam bentuk amok masa yang tidak terbendung. Ingat kasus penghancuran patung di Kalianda, adalah bentuk kitidak mampuan elite birokrasi memelihara keragaman yang ada di dalam masyarakat.

Bisa juga dalam bentuk “Bungkam” yaitu sikap yang ditampilkan dengan tidak menampakkan ekspresi. Jika ini terjadi maka yang muncul adalah sifat apatisme sosial, dan ini juga membahayakan bagi keberlangsungan masyarakat, karena anggotanya memilih untuk tidak melakukan apapun.

Semoga dengan semangat Hari Raya Nyepi ini kita mampu semakin tajam melihat keberagaman yang ada di Provinsi Lampung. Dengan demikian kita akan semakin menjadi arif menyikapi perbedaan yang ada diantara kita. Perbedaan itu adalah sisi lain dari kesamaan, oleh karena itu keduanya tidak dapat kita abaikan begitu saja, tetapi bagaimana mengelolanya menjadi kekuatan dahsyat untuk membangun bangsa ini. Mata uang tidak akan memiliki harga jika hanya kita melihat dari satu sisinya, akan menjadi bernilai jika kita mau menerima sisi lain yang membuat pembeda. 



















Sunday, 19 March 2017

BANCAAN


BANCAAN

Pada waktu kecil usia bermain di kampung-kampung Jawa ada semacam kebiasaan pada waktu  ada Ibu melahirkan, maka keluarga itu akan membuat sedekah kecil yang diberi nama “bancaan” atau juga sering disebut “among-among”. Peserta yang diundang adalah anak-anak kecil usia balita. Adapun isi among-among atau bancaan tadi adalah nasi urap, telur ayam rebus yang dipotong empat, kerupuk merah, dan sedikit ikan asin lalu dibungkus daun jati atau daun pisang. Pada waktu itu rasanya nikmat sekali, karena sesuai dengan usia yang suka bermain dan berkelompok, sehingga kalau ada bancaan rasanya senang sekali. 

Sesuai adat masyarakat Jawa yang sering melakukan upacara ritual dari Pernikahan, Tujuhbulanan atau mitoni, lahiran, pupak puser sampai kematian, akan selalu kenal dengan bancaan. Bahkan pada waktu itu setiap tahun pada Kampung Jawa dikenal Sedekah Bumi yaitu ritual bersama sebagai bentuk rasa syukur karena keberhasilan panen dan membersihkan sukerto (istilah dosa sosial) yang ada dalam masyarakat. Konsep bancaan pada masyarakat ini seolah semacam pembagian resiko sosial kemiskinan; dalam arti meratakan yang tidak rata. Atau dengan kata lain membantuh orang sekalipun kita dalam keadaan perlu bantuan. Bancaan merupakan simbiose mutualistik bagi orang desa dalam membagi resiko.

Konsep adiluhur itu sekarang berbalik 180 derajat dengan ditemukannya Elektronik Kartu Tanda Penduduk ( E-KTP). Konsep Bancaan yang semula merupakan kuwajiban sosial dalam pembagian resiko sosial, berubah menjadi mengambil hak orang lain (baca: Rakyat) untuk memperkaya diri sendiri. Bisa dibayangkan jika salah satu penikmat bancaan itu mencapai setengah triliyun. Penulis tidak mampu membayangkan dengan gaji yang dimiliki sekarang untuk mencapai uang sebanyak itu harus puasa berapa ratus tahun.

Barangkali para pelaku Bancaan E –KTP pada waktu kecil sering tidak kebagian “bancaan” ; sehingga begitu dewasa masih berkelakuan anak balita. Bisa jadi karena kecerdasannya; maka semua pengalaman sosial yang mengenakkan dimasa kecil, ingin diulang terus menerus, termasuk pada waktu bancaan serakah selalu minta lebih, sehingga waktu dewasa terbawa-bawa. 

Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa “Bancaan E-KTP” ; disamping jumlah uang yang begitu fantastis, juga pelakunya adalah para petinggi negeri ini yang sebenarnya memiliki kehidupan super kecukupan. Rasanya mereka memiliki kekayaan untuk tujuh turunanpun belum habis; ternyata mereka tetap saja menjadi peserta bancaan yang paling aktif.

Terlepas dari proses hukum yang sedang berjalan, dan upaya menolak kesaksian persidangan; namun rakyat kecil sudah terlanjur disuguhi Drama Bancaan E-KTP yang sangat menciderai hati nurani. Akibatnya akan membuat masyarakat terbelah; Belahan Pertama; mereka menjadi ingin meniru dengan cara berjuang melalui Partai Politik atau Birokrasi Pemerintahan, untuk kelak kemudian hari  ikut menjadi pemain. Prinsip kelompok ini, mengapa mereka bisa saya tidak. Walau kelompok ini tidak secara terang muncul kepermukaan; akan tetapi akan tetap ada karena mereka memiliki Patron Sosial yang sudah terbentuk.

Belahan Kedua; mereka yang ingin menegakkan keadilan dengan memberikan hukuman pemberatan yang maksimal sampai dengan hukuman mati bagi para pelaku Kejahatan Bancaan. Walaupun terkesan utopis, namun kelompok ini sudah sering muncul ditengah masyarakat, terutama dipelopori oleh teman-teman Lembaga Swadaya Masyarakat.
Belahan Ketiga, mereka yang bersifat menunggu arus. Jika arus deras melanda adalah gelombang pertama, mereka ini tidak segan-segan akan ikut, walau dimulai dengan skala kecil, seperti menggelapkan Gaji orang lain, mengambil Hak orang lain. Bahkan ada staf Dewan Terhormatpun tega memangkas haknya tenaga ahli. Namun bila arus kuat yang datang kelompok ke dua, kelompok ini biasanya paling lantang suaranya untuk ikut memberantas  penyimpangan sosial tadi. Kelompok ambigu ini tampaknya semakin besar jumlahnya, dan ini  membahayakan negara, karena mereka akan menjadi kelompok pemberat sosial.

Ternyata peristiwa Bancaan E-KTP memiliki dampak daya rusak sosial yang sangat tinggi dan masip; hal ini tidak banyak orang menjayadarinya. Peristiwa ini bisa menjadi Patron Sosial Negatif pada generasi penerus. Karena setiap mereka melihat Kartu Tanda Penduduk, maka yang akan terbersit adalah mega korupsi, dan Stimulus Respon ini akan berlangsung minimal satu generasi. Menjadi lebih berbahaya lagi jika ini menjadi main set, berawal dari seloroh berujung menjadi serius.

Jika kita dekati dengan teori Permodelan, maka E-KTP akan membangun model dalam pribadi orang yang melihat KTP. Dengan kata lain begitu seseorang melihat KTP yang terbersit bagaimana cara mencontoh untuk dapat uang mudah menggunakan KTP. Jika ini kemudian hari menjadi belife, maka akan membahayakan tatanilai harmoni yang telah ada selama ini ditengah-tengah masyarakat.

Berdasarkan sudut pandang kajian teori manapun ternyata Bancaan E-KTP memiliki daya rusak yang luar biasa. Begitu masifnya, walaupun tidak tampak dipermukaan, akan tetapi berpusar kebawah dalam arti menuju lapis sosial bawah. Peristiwa seperti ini sangat langka terjadi; dan jika ini terjadi yang tertinggal adalah luka sosial yang sangat sulit disembuhkan.  Orang akan mencibir sudah sebeginikah parahnya negeri ini.

Peristiwa sosial serupa ini merupakan pengalaman sosial yang sangat berharga bagi bangsa ini, kita semua diajak berfikir ulang untuk menentukan formulasi mengelola negara. Ternyata dengan sistrm perwakilan melalui Dewan Perwakilan, diperlukan kaji ulang sistem yang digunakan, Rakyat hampir setiap hari disuguhi kelakuan wakilnya yang tidak sesuai dengan amanah yang diberikan. Walaupun tetap saja ada pembelaan tidak semua berkelakuan demikian, namun perlu diingat bahwa perwakilan itu bersifat kolektif kolegial, maknanya bahwa jika satu saja melakukan perbuatan penyimpangan, maka semua mereka akan terkena akibatnya.
Komentar-komentar dimedia sosial, media massa online berkenaan dengan peristiwa ini sangat mengerikan. Hitungan-hitungan matematis yang disajikan dengan membuat penyetaraan dari pembangunan Kereta Cepat, membeli Gerbong Kereta KRL, semua menunjukkan angka fantastis. Bahkan gelar yang diberikan berupa Mega Korupsi, menjadikan semakin berdiri bulu kuduk. Bahkan ada mahasiswa yang berseloroh jika itu untuk membiayai SPP mahasiswa bisa membebaskan SPP mahasiswa Pascasarjana se Indonesia. 

Keadaan ini tidak selesai begini saja, apalagi kalau diserahkan kepada regulasi hukum yang ada, mungkin Hukuman yang dijatuhkan baru memiliki kekuatan hukum tetap nanti baru tahun 2022, dan jika itupun para pelakunya masih hidup. Oleh sebab itu perlu ada semacam Mahkamah Luar Biasa untuk menngani kasus ini. Belajar dari pengalaman Mahkamah Militer Luarbiasa (Mahmillub)  dengan segala kelemahan dan kelebihannya, bisa dijadikan rujukan agar segera muncul effek jera pada mereka yang punya niat. Semoga Tuhan melindungi bangsa ini dari kehancuran.






Wednesday, 1 March 2017

DIASPORA

Pada beberapa minggu lalu saat ada waktu untuk melaksanakan perjalanan suci ketanah Harom ; rombongan yang terdiri dari 36 orang berasal dari beberapa kawasan Indonesia, walaupun dominasi tetap dari Ibu Kota; ada sesuatu yang menarik yaitu ada dua anggota bersaudara terdiri dari Kakak dan adik. Sang Kakak perempuan lajang profesional sedangkan adik dari SMA Internasional Gandhi bernama Ando.

Dilihat dari  tampilan tidak ada yang menarik tetapi menjadi terperangah setelah mengenal lebih dekat; ternyata Ando sudah dua kali ke Tanah Suci, pertama dengan kedua orang tuanya, dan kali ini dengan sang kakak. Ando lima bersaudara dan dia adalah si bungsu. Kakak-kakaknya yang tiga sedang berlibur ke Eropa, sedangkan dia diperintahkan melalui Kakak nomor empat untuk pergi ke Tanah Suci tanpa di kawal orang tua. Anak mami ini harus melakukana semua mandiri tanpa boleh minta bantuan siapapun kecuali amat terdesak. Dari pembicaraan yang intens ternyata Ando menikmati perjalanan ini karena bisa menggunakan bahasa Indonesia sepanjang hari. Ando merasa terasing dinegeri sendiri karena dari bangun tidur sampai tidur lagi dia harus menggunakan Bahasa Asing, karena sekolah di Sekolahan asing.  Menggunakan bahasa asing seperti saat mampir di Dhoha Qatar, anak ini sangat fasih sehingga Guide yang ada merasa kuwalahan melayani pertanyaan-pertanyaan bocah SMA kelas dua ini. Tetapi bagi Ando itu penyiksaan. 

Aneh tapi nyata, ternyata di Indonesia saat ini ada segelintir anak bangsa yang hidup di negerinya sendiri menjadi terasing. Kemakmuran yang dinikmati keluarga ini dan cita-cita keluarga untuk tampil mendunia seluruh keturunannya; ternyata membawa individu di dalam keluarga itu menuju kepada alam yang tereliminasi. Dan mereka sangat rindu akan suasana keindonesiaan yang sesungguhnya.

Sesampai di Kota Suci Makkah rombongan didampingi oleh seorang anak muda bernama Abdulrahman. Anak muda ini lahir tahun 2000, ibu dari Pamekasan Madura dan Ayah dari Kediri Jawa Timur, Ustad muda ini lahir dan besar di Tanah Suci, karena kedua orang tuanya adalah eks TKI yang sukses dan tidak ingin kembali ke Indonesia. Sehari-hari  anak muda ini menggunakan bahasa Arab. Bahasa Indonesia dia belajar dari sang Ayah, termasuk menulis Tulisan Bahasa Indonesia, sedangkan dari Ibu belajar Bahasa Madura. Ustad muda yang masih belajar di Aliyah ini sangat senang menjadi pemandu kami karena bisa memperlancar bahasa indonesia dan melatih menulis sendiri Bahasa Indonesia. Abdulrahman sangat mencintai Indonesia, dia bercita-cita membuka pesantren di Tanah Jawa tempat leluhur dari Ayahnya. Dia ingin sekali pada waktunya jika memiliki cukup biaya untuk melihat seperti apa Indonesia itu. Anak tunggal ini begitu bersemangat jika mendengar berita-berita Indonesia, bahkan  anak muda ini melalui media sosial, membuka jaringan pertemanan senasib untuk memikirkan bagaimana Indonesia kedepan dan peran apa yang bisa mereka lakukan.

Berkaca dari dua peristiwa di atas membuat hati ini menjadi miris sekaligus bangga. Ternyata anak-anak muda Indonesia masih banyak yang memiliki kecintaan terhadap negerinya.  Banyak anggapan selama ini bahwa anak-anak muda mengalami kemerosotan nilai-nilai keindonesiaan, ternyata tidaklah semua benar. Ada diantara mereka yang tetap gigih mempertahankan keindonesiaannya di dada, sekalipun berada  di negara lain bahkan lahir dan besar di negara lain.

Justru berbanding terbalik jika menyikapi keadaan masyarakat saat ini yang kebingungan menghadapi ulah sebagian tokoh masyarakat. Kondisi ini menjadi lebih rumit lagi karena ada tokoh nasional yang ikut mencari panggung, dengan cara memanfaatkan celah sosial yang terbentuk karena akibat dari adanya pusaran sosial. 

Kejernihan pemikiran kaum muda ini terkristalisasi pada kesepakatan Cibubur baru-baru ini yang tertuang sebagai “komitmen Kebangsaan” pada waktu Jambore Pramuka Mahasiswa (terlepas status hukum pelaksanaan kegiatan itu tidak dibahas di sini). Walaupun karena jiwa mudanya, maka dalam mengeksposenya sedikit kebablasan, sehingga membuat seorang tokoh nasional sedikit kebakaran jenggot. Namun esensinya adalah mereka lebih berfikir cerdas untuk tidak menerima warisan hutang dan SARA, kemudian mempertahankan Pancasila sebagai Filosofi bangsa. Bentuk kecintaan pada Tanah Air yang cerdas ini menunjukkan bahwa mereka masih sangat peduli akan NKRI sebagai Tanah Tumpah Darah nya.

Bonus demografi yang menghampiri Indonesia saat ini, seharusnya dipersiapkan dengan baik oleh pemerintah dengan membuat kebijakan yang konprehensif untuk generasi muda. Jika ini tidak dilakukan dengan segera, maka momen yang bagus ini akan hilang dengan sia-sia.  Karena merekalah nantinya yang akan memimpin Indonesia ini pada saat 2045, atau satu abad usia Indonesia Merdeka.  Takaran keberhasilan akan tampak di sana, karena ada semacam evaluasi sejarah yang akan berjalan. Terus atau tenggelam, pecah apa bersatu, adalah parameter yang tampak akan muncul di sana, dan semua itu adalah hasil kerja nyata kita selama ini. 

Menjadi pertanyaan tersisa sekarang  “bagaimana mengalirkan Pancasila ke urat nadi mereka” sehingga bangsa ini tetap utuh dalam bingkai  Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti yang kita sama-sama perjuangkan ini. 

Urusan mengalirkan Pancasila Keurat nadi mereka jangan disalahartikan mengagamakan Pancasila, akan tetapi sebagai peneguhan jati diri sebagai Orang Indonesia, itu yang dimaksud. Dengan demikian tugas generasi sekarang menanamkan Merah Putih dan Garuda Pancasila di dada setiap kaum muda Indonesia adalah kuwajiban suci yang harus terus menerus dilakukan, jika tidak ingin Indonesia ini terpecah atau tenggelam ditelan sejarah.

Bukti-bukti sejarah masa lalu telah banyak membuktikan ; justru kehancuran suatunegara itu terjadi antaralain adalah disumbang dari kesalahan pengelolaan generasi penerus, oleh para pendahulunya. Pengelolaan disini memiliki arti yang sagat luas; yaitu dari masalah pendidikan, penanaman ideologi, dan kesejahteraan dan kepastian masa depan. 

Para pemimpin  bangsa ini bisa saja memanggil mereka para diaspora untuk kembali pulang ke Tanah Air; persoalannya adalah apakah kita secara sosial sudah mempersiapkan tempat untuk mereka. Ruang-ruang sosial yang mereka harapkan adalah ruang-ruang yang dapat memberikan kontribusi nyata kepada negaranya. Tidak jarang mereka merasa teraasing di negerinya sendiri akibat dari ketidak siapan kita menerima mereka. Jago-Jago ini memerlukan arena gelanggang untuk berkiprah; oleh sebab itu ajakan pulang membangun negeri tidaklah cukup menjadi penjamin secara sosial bagi mereka. Harus ada tindakan nyata mereka akan diberdaayakan dimana, sebagai apa, dan apa hak dan kuwajibannya.

Semoga dalam menyikapi bonus demografi, Indonesia mampu menangkap moment ini untuk mempersiapkan generasi muda yang lebih baik lagi. Karena pada waktunya nanti anak-anak Indonesia secara fisik tidak ada di Indonesia, namun tautan cinta tanah air menjadikan mereka tertambat pada Ibu Pertiwi.
  

   





Friday, 17 February 2017

PILKADA


PILKADA
(Petaka atau Berkah)
Sudjarwo
Guru Besar Unila

Beberapa saat lalu negara kita dihirukpikukkan oleh hajat nasional yaitu diselenggarakannya Pemilihan Kepala Daerah secara serentak. Tidak kurang dari 102 daerah pemilihan menggelar hajat nasional ini. Dari Aceh sampai Papua pesta demokrasi ini berlangsung, tentu saja dengan banyak bumbu-bumbu; dari yang paling manis sampai yang paling pahit.
Namun demikian Pesta Demokrasi kali ini ada yang sangat menarik yaitu dari seratus lebih daerah yang menyelenggarakan Pesta Demokrasi, namun beritanya hanya didominasi oleh Pilkada Jakarta. Berita Jakarta ini mendominasi semua saluran televisi, bahkan radio yang ada. Menjadi lebih seru lagi ditambah dengan dominasi dari media sosial yang ada. Untuk yang terakhir ini beritanya menjadi “super seru” karena kita sulit membedakan berita itu “palsu” atau ssungguhan. Membacanyapun dari yang menaikkan bulu kudu, sampai berita yang membuat bibir tersungging senyum.
Hal tersebut wajar terjadi karena Jakarta adalah Ibu Kota Negara yang menjadi semacam tolok ukur bagi semua daerah untuk menakar demokrasi. Akan tetapi menjadi tidak elok tontonan tadi manakala muncul tokoh tokoh nasional yang muncul dengan menampilkan perilaku yang tidak sesuai dengan “baju” nya.  Adalagi perilaku yang seharusnya untuk ukuran usia dan status yang bersangkutan menampilkan laku yang teduh, ngayomi; ternyata  justru menampilkan perilaku garang, memusuhi semua yang berbeda. Namun apesnya pada saat pesta berlangsung, justru piring yang ada didepannya dipakai untuk makan orang lain.
Pada sisi lain juga menjadi sesuatu yang menarik, yaitu masih tingginya kartu suara yang tidak dipakai; atau dengan bahasa lain masih banyak mereka yang berhak tetapi tidak melaksanakan haknya. Jika kejadian itu di daerah, mungkin kendala jarak, transportasi, cuaca; menjadi pembenaran. Akan tetapi untuk Ibu Kota hal ini menjadi aneh, karena semua kendala di atas relatif nihil. Hal ini tentu ada sebab-sebab lain yang mendorong peristiwa itu terjadi.
Tontonan yang tidak bisa jadi tuntunan seperti di atas berbekas pada banyak anak negeri ini, sehingga mereka seolah mendapatkan contoh yang tidak patut dicontoh. Apalagi mereka merasa diberlakukan tidakadil oleh perlakuan media ataupun tokoh. Hal ini terjadi karena mereka merasa dilupakan oleh negeri ini, akibat dari terlalu digiring fokus mereka ke Jakarta, sementara mereka sendiri sedang melakukan perhelatan Pesra Demokrasi.
Pertanyaan tersisa adalah apa yang terjadi dalam masyarakat dengan adanya Pilkada. Jika pertanyaan ini kita jadikan acuan, maka ada pertanyaan lanjut pada kelompok mana ini ditujukan. Jika pertanyaan ini ditujukan pada kelompok awam, jawabannya adalah mereka lebih mengutamakan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bahkan jika mereka dihadapkan pada pilihan memilih atau penghasilannya berkurang. Maka sudah dapat dipastikan mereka akan memilih pada mempertahankan penghasilan. Kelompok ekonomi subsistensi ini (meminjam istilah Sosiologi Pertanian), merasa lebih rentan ekonominya, oleh karena itu prioritas ekonomi menjadi utama. Tidak salah jika kelompok ini lebih tidak ikut pesta bukan karena tidak partisipatif, akan tetapi lebih pada “ketakutan kuali penanak nasinya” terguling.
Bagaimana dengan kelompok menengah bawah. Kelompok ini paling getol untuk menjadi partisipasi aktif dalam pesta demokrasi, namun bukan berarti partisipasi murni. Partisipasi mereka sangat rapuh dengan godaan material sesaat. Bahkan kelompok ini bisa berbuat kiri kanan Ok, dalam arti lebih mendahulukan kepentingan mereka, walaupun bersifat sesaat.  Kelompok ini tidak begitu tampak dipermukaan, akan tetapi secara riel ada ditengah masyarakat. Bahkan dari mereka sering muncul slogan “wani piro”. Kelompok ini seolah masa apung yang labil untuk mudah berubah. Tidak jarang dari mereka saat Pasangan Calon A mengadakan kampanye, mereka hadir. Saat pasangan lain kampanye dengan waktu yang berbeda, merekapun hadir. Ganti atribut dalam sesaat mereka dapat lakukan dengan mudah.
Kelompok menengah berbeda lagi. Karena secara ekonomi mereka lebih mapan dan memiliki akses media lebih luas ; mereka lebih bersifat “menunggu” dan “ melihat”. Mereka lebih cenderung menjadi masa apung, namun demikian mereka lebih konsisten jika sudah menetapkan pilihan. Kasus ini dibuktikan dengan Ibu Kota yang di gruduk (pinjam istilah pak BY) oleh masyarakat luar, tetapi tidak banyak menggoyahkan pilihan kelompok ini. Bahkan mereka menjadi semakin mengeras karena merasa diintervensi. Kelompok ini tidak bisa ditekan-tekan, akan tetapi lebih pada diberikan pilihan-pilihan, sehingga mereka merasa dihargai. Kelompok inilah sebenarnya merupakan kelompok penentu dalam keberhasilan Pemilihan, karena makin besar jumlah  tingkat partisipasi mereka, maka akan makin besar juga tingkat keterlibatan peserta pilih pada suatu daerah.
Kelompok menengah atas. Kelompok ini jumlahnya sedikit, tetapi memgang posisi kunci dalam strata masyarakat. Masing-masing anggota memiliki sejumlah pengikut, baik atas dasar hubungan darah, maupun pertemanan, serta kolega kepartaian/aliran. Kelompok ini menjadi semacam penggerak mesin sosial, bahkan bisa jadi juga merangkap menjadi donatur kegiatan.  Namun demikian kelompok ini sebenarnya sering dimanfaatkan oleh kelompok menengah bawah untuk dijadikan semcam “pemanfaatan situasi”.  Kelompok menengah atas ini mampu menggerakkan massa besar-besaran, bahkan masip dengan memanfaatkan kelompok menengah bawah, guna dijadikan “tunggangan sosial”. Tampak semacam simbiose mutualistis atau saling memanfaatkan dari keduanya.
Bagaimana dengan kelompok minoritas sosial lain. Dalam tulisan ini diberi istilah “sempalan bawah” dan Sempalan Atas”. Sempalan bawah adalah mereka yang secara sosial ekonomi termarginalkan karena kekurangannya. Kelompok ini sama sekali tidak mengacuhkan peristiwa sosial termasuk Pilkada. Bagi mereka hidup hari ini, dicari hari ini, dan untuk hari ini. Mereka abai dengan kondisi sosial sekitar; yang penting bagi mereka hari ini mencari, untuk dimakan hari ini, hari esok biarkan nanti.
Bagaimana dengan sempalan atas. Kelompok ini berbeda kutub dengan sempalan bawah. Ciri sempalan ini ialah secara ekonnomi mereka di atas rata-rata. Jumlahnya mereka sedikit, tetapi mengendalikan seluruh lapisan yang ada di negeri ini. Bukan hanya ekonomi, bahkan sampai pada sosial politik.  Partisipasi mereka pasip, tetapi modalnya yang aktif; sehingga mereka berkecenderungan sangat individualis. Jika dirasa iklim yang ada akan mengnganggu mereka secara ekonomi, maka mereka dengan mudah hengkang dari negeri ini pergi kenegeri lain. Tempat tinggal fisik bukan menjadi tumpuan, tetapi tempat tinggal modal itu utama. Perilaku mereka sangat sensitif jika menyangkut capital, karena harta kekayaannya tidak habis untuk tujuh turunan, tetapi  jika salahkelola bisa hilang dalam tujuh detik. Oleh karena itu mereka lebih senang bergerak dibelakang layar bak bayang-bayang maut yang hanya bisa dirasa tidak bisa diraba.  Suka tidak suka Pilkada membuat mereka sedikit terganggu; karena mereka selalu mepelototi situasi kondisi yang sewaktu-waktu berubah, dan jika itu terjadi mereka dengan segera memindahkan kapitalnya keluar dari negeri ini.
Pemilahan-pemilahan di atas hanya pemilahan imaginer;  untuk mempermudah analisis sosial. Sedangkan pada dunia nyata batas-batas imaginer itu tidaklah kentara benar, namun bisa diamati perilaku masyarakat untuk dilakukan pengkatagorian.  Perdebatan masalah ini bersifat abadi karena bisa saja seseorang dalam kategori material masuk golongan tertentu, tetapi dalam kategori sosial masuk golongan lainnya.

Menjadi sesuatu yang tersisa adalah apapun alasannya Pilkada akan menjadikan masyarakat terbelah secara imaginer. Menjadi tugas para pemimpin bangsa ini untuk membendung belahan itu untuk tidak menjadi belahan sosial, karena jika itu yang terjadi ; maka benturan sosial tidak dapat dielakkan. Belahan imaginer akan cepat menjadi belahan sosial riel jika ada pihak tertentu yang mengambil kesempatan dengan memancing di air keruh melalui hembusan SARA, atau menciptakan musuh imaginer ; sehingga terjadi destruktif sosial yang bisa menghancurkan Bangsa dan Negara ini.

Namun sebaliknya jika pelaku sosial bersikap dewasa dengan menyikapi perbedaan sebagai suatu sunatullah; maka yang terjadi adalah bangun demokrasi yang  harmonis. Inilah yang menjadi impian bersama kita dalam membangun bangsa. Semoga Pilkada bukan membawa petaka tetapi membawa berkah.

  


Wednesday, 28 December 2016

TUJUH TAHUN “GUS DUR” (Refleksi dan introspeksi diri)

TUJUH TAHUN “GUS DUR” (Refleksi dan  introspeksi diri)

Oleh : Sudjarwo

Guru Besar FKIP Universitas Lampung.
Bertepatan dengan tanggal 30 Desember  nanti genap tujuh tahun Bapak Bangsa Abdulrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur , meninggalkan kita. Banyak jejak-jejak kehidupan yang beliau tinggalkan, terlepas terhadap penilaian Pro dan Kontra, beliau telah meninggalkan sejarah. Tulisan ini tidak memposisikan diri pada keduanya; akan tetapi ingin melihat dari sisi lain atau prespektif yang mungkin berbeda.
Dilihat dari ketokohan, tidak ada orang yang menafikan bahwa Gus Dur memang tokoh, terlepas dari sudut pandang yang berbeda, dan membuat kontroversi yang terkadang begitu tajam. Tetapi justru ini menjadi semacam kekuatan bagi Gus Dur, karena setiap kita membicarakan beliau; maka mozaik ini akan muncul dengan sendirinya. Hal ini juga sekaligus meneguhkan pada pendapat yang menyatakan bahwa Gus Dur adalah Bapak Kebhinekaan.
Sisi lain pemikiran-pemikiran beliau menjadikan “Aliran” dalam sistem paradigma berfikir dari sejumlah orang, yang kemudian disebut oleh orang lain juga sebagai “Gusdurian” kepada para pengikut aliran tersebut.Perlu diingat bahwa tidak semua Presiden Indonesia yang pemikirannya menjadi aliran, dalam sejarah hanya ada Sukarnoisme,  Habibinomic dan Gusduria. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana kuatnya pengaruh pemikiran tokoh ini pada kehidupan berbangsa dan bernegara .
Resiko pemikiran yang menjadi aliran adalah berada pada posisi Pro dan Kontra  setiap saat, dan itu merupakan sesuatu hal yang wajar. Bahkan pada waktunya nanti akan ada kajian kritis yang menimbang aliran itu dimuka pengadilan ilmiah. Namun untuk Gusdurian apapun timbangannya tetap memiliki keunggulan ontologis yang khas.Salah satu bentuk keunggulannya ialah aliran ini merupakan kombinasi lokal content dan Islam. Oleh sebab itu aliran ini menjadi cepat berkembang dan mendapatkan banyak simpati; paling tidak menjadi seksi untuk dikaji. Kekhasan lainnya ialah mampu menjadi jembatan lintas multi, dalam arti bahwa Gusdurian tidak menjadi milik kelompok tertentu, tetapi menjadi milik mereka yang merasa memiliki Gus Dur.
Sederet gelar kemayarakatan dan kebangsaan ini menunjukkan bahwa beliau memang orang yang diberi kelebihan atau dalam bahasa Jawa disebut “linuwih”.Namun kelebihan yang bersifat non fisik itu tidak dapat dilihat oleh mata jasmani, hanya dapat dirasakan melalui mata hati. Persoalannya tidak semua orang mampu menggunakan mata hatinya; sehingga tidak jarang hujatan dan celahan yang muncul dari mereka dengan berlindung pada rasionalitas. Namun komentar-komentar itu sedikitpun tidak menjadikan marwah Gus Dur menjadi pudar; justru sebaliknya. Oleh sebab itu Gus Dur justru besar karena ada pada posisi puncak ketakjupan dan ketidaksukaan. Dua kutup yang berbeda dan menyatu; di atas puncak itulah Gus Dur berada.
Apabila Kartini punya “Habislah Gelap Terbitlah Terang”, Gus Dur justru memiliki “Tetap Terang Sekalipun dalam Gelap”. Kendala fisik tidak menjadikan beliau terpenjara, justru beliau menjadi begitu merdeka ; terutama dalam gagasan besar dan pemikiran besar. Tidak jarang pikiran-pikiran atau ide-ide beliau menembus jamannya, sehingga banyak orang baru paham akan ide dan gagasannya setelah beliau wafat.
Pemberian labelatau simbol apapun kepada Gus Dur tidak akan menyurutkan ketakziman banyak orang kepada beliau. Exsisting Ontologi yang melekat pada beliau begitu kuat, sehingga dalil apapun  yang dipakai untuk menafihkan justru berbalik menjadi mengokohkan. Anomali sosiologis serupa ini sangat jarang terjadi melekat pada ketokohan seseorang.  Justru kebanyakan ketenaran seseorang menjadi seketika runtuh, begitu ditemukan celah kelemahan ontologis pada yang bersangkutan. Banyak sekali peristiwa seperti itu terjadi; masih segar dibenak kita, tokoh agama kondang, bisa mengalami social rush begitu cepat, karena terjadi semacam kekeliruan sosial yang tidak bisa diterima oleh logika sosial. Ada juga Motivator yang mengalami hal yang sama karena kesalahan manajemen sosial.
Hal lain yang juga menumbuhkembangkan Gusdurian adalah kekompakkan keluarga inti dalam menjunjung tinggi marwah beliau. Pada keluarga ini tidak ditemukan silang posisi antarketurunan dalam mensikapi dan mendukung kebesaran Gus Dur. Ini menjawab dua hal, pertama, bahwa ketokohan sebagai seorang Bapak memang betul-betul ditanamkan oleh Gus Dur dan Ibu Sinta Nuria pada generasinya.  Atas nama kemerdekaan pribadi boleh saja untuk beda pendapat, namun ternyata generasi Gus Dur di rumah tetap selalu ada pada koridor yang sama. Berbeda dengan tokoh yang lain di Indonesia ini; atas nama Kemerdekaan bisa saja dua bersaudara atas nama payung yang sama, tetapi berhadaphadapan dalam mengaplikasikan ideologi payungnya.Kedua, bahwa Gusdurian sebelum keluar sebagai konsumsi publik terlebih dahulu terinternalisasi secara baik pada keluarga inti dan para santrinya. Hal ini berarti ada semacam masa pengendapan, penyaringan, evaluasi secara sosiologis terlebih dahulu. Dengan demikian sesuatu yang keluar sudah melalui proses panjang pemasakannya.
Sisi lain yang juga menjadi keunggulan beliau adalah melihat semua persoalan tidak terlepas dari sisi humoris manusiawi. Bingkai humor ini tidak jarang baru terasa jika kita sudah sendiri dan merenungkan dari apa yang beliau ucapkan. Adagium seperti BEGITU SAJA KOK REPOT, SEPERTI SEKOLAH TK, dan masih banyak lagi. Ucapan ucapan humor itu sering membuat orang tersinggung dan membuat orang lain marah. Namun dalam marah orang itu sebenarnya memunculkan kegelian jilid dua bagi yang melihatnya, yaitu geli yang pertama adalah dari ucapan Gus Dur sendiri, geli yang kedua,adalah perilaku orang yang marah karena sentilah humor Gus Dur, kita memandangnya jadi geli. Dobleeffek atau mungkin tripleeffek ini tidak banyak orang bisa memunculkannya, bahkan sekelas pelawak sekalipun.
Adalah sesuatu yang wajar sekiranya Gur Dur mendapatkan penghormatan sebagai Maha Guru Kemanusiaan. Hal ini dapat kita renungan dari kebijakkan beliau menghapuskan Departemen Sosial. Karena sifat sosial itu adalah fitrah yang harus melekat pada manusia, dan jika sifat ini kemudian dilembagakan dengan mendapatkan fasilitas, maka itu berarti membuat kemanjaan baru sekaligus mengingkari eksistensi individu yang merupakan sublimasi dari sifat individual dan sifat sosial. Dengan katalain, masalah-masalah sosial itu tidak lebih juga masalah individual, karena kedua hal itu bak dua sisimata uang yang sama. Jika manusia melaksanaan perilaku individual, sebenarnya dia juga dalam koridor perilaku sosial. Begitu juga manakala manusia itu melaksanakan perilaku sosial, sebenarnya itu adalah tugas wajib individual yang melekat. Oleh sebab itu cukup setingkat Menteri saja dan tanpa Departemen, jika tugas filosofisnya demikian.
Pikiran-pikiran filosofi di atas banyak baru disadari setelah beliau tidak ada. Banyak diantaranya justru mereka yang dahulu mengupat, setelah melek filsafat, baru menyadari bagaimana kesesatan berfikir yang mereka alami selama ini. Banyak hal yang ditinggalkan oleh Gus Dur sesuatu yang belum selesai, justru beliau mempersilahkan kepada kita untuk menyelesaikannya. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah sampai pada tingkatan berfikir paripurna, dan tidak akan sampai (bhs Jawa : Nyandak) bagi mereka yang tataran berfikirnya masih setengah-setengah, apalagi baru tingkat pemula.
Demikian juga pada waktu beliau menutup Departemen Penerangan, semua orang bertanya, lalu media apa yang dipakai pemerintah untuk menginformasikan semua pekerjaan kepemerintahan. Ternyata ada dasar filosofis yang selama ini kita abaikan. Sadar atau tidak sadar kecenderungan individu itu akan menunjukkan kebaikannya saja, kelemahan yang dimiliki akan ditutupi serapat mungkin. Tindakan bodoh ini baru kita sadari justru kecenderungan ini terbawa kepada perilaku kelembagaan yaitu mengumbar kebaikan diri, lupa kekurangan yang harus diperbaiki. Akibat lanjut ialah kita akan terninabobok dengan laporan Asal Bapak Senang (ABS) yang sengaja dibuat untuk menyenangkan hati atasan, sehingga lupa akan kekurangan. Tidak jarang pada waktu itu selalu keluar kalimat ATAS PETUNJUK BAPAK PRESIDEN. Lalu apa guna dibuat Departemen kalau semua petunjuk dijadikan dasar, bukan hasil kajian lapangan. Kelemahan manusiawi ini oleh Gus Dur cepat ditangkap dan diselesaikan dengan cara membubarknnya. Akibatnya informasi menjadi terbuka, kita masing-masing menjadi sumber informasi sekaligus Polisi informasi. Karena jika ada informasi yang tidak patut semua kita akan mencegahnya, sebaliknya jika ada informasi yang patut disebarkan maka kita akan menyebarkannya. Terlepas dari segala kelemahan cara ini, paling tidak kita akan berproses menjadi penerima dan penyebar informasi yang dewasa dan bertanggungjawab.
Masih banyak lagi tinggalan filosofis dari Gud Dur pada bangsa ini yang tidak mungkin kita bahas satupersatu pada halaman yang terbatas ini, akan tetapi paling tidak mulai sekarang kita menyadari bahwa apa yang dipikirkan Gus Dur adalah pemikiran yang melampaui jamannya. Jika ada pepatah yang mengatakan HARIMAU MATI MENINGGALKAN BELANGNYA, untuk seukuran Gus Dur rasanya tidak tepat, justru untuk ukuran beliau Harimau Mati bukan hanya meninggalkan belangnya yang indah, tetapi juga Cakarnya yang kokoh, Taringnya yang tajam, sorot mata yang kemilau, sera kegigihannya yang tanpa batas.
Selamat Jalan Gus, hanya doa yang mampu kami panjatkan untukmu, karena kesempurnaanmu telah membawa kami kepada pemahaman akan ketidak sempurnaan kami. Jejak-jejakmu hanya mampu kami pandang, karena kami tidak akan mampu menapaki tapak-tapakmu. Tapakmu yang telah menghujam Nusantara, bahkan Dunia, membuat kami tidak berarti apa-apa. Hanya ALLOH yang Maha Tahu menempatkan orang semulia dirimu dialam sana. Sekali lagi SELAMAT JALAN GUS.





Friday, 23 December 2016

22 Desember

22 Desember

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar dan Direktur Pascasarjana Unila

Pada saat merenungkan peristiwa 2 Desember yang digagas banyak orang, pemikiran keluar dari pakem muncul dengan sebersit pertanyaan ; jangan-jangan orang abai dengan 22 Desember. Tanggal itu dikenang sebagai Hari Ibu, anak-anak muda sekarang yang gemar bahasa asing mengganti label dengan Mother Day. Bahkaan ada diantara mereka membuat Kue penghormatan buat Ibu mereka. Hal serupa itu sah-sah saja untuk jaman yang sudah berubah ini.
Pada hari itu mengingatkan kembali sosok seorang Ibu yang menunggui anak-anaknya belajar, di bawah temaram Lampu Minyak (Jawa: Ublik), beliau memainkan Kawat Kait benang untuk merajut, menjadikan Taplak Meja, atau apapun lainnya. Sesekali beliau bersenandung lagu lawas, yang tidak tahu siapa penulisnya lagu itu sampai sekarang.  Sesekali juga beliau bertanya kepada anak-anaknya apa yang bisa beliau bantu. Wajah ihlas walau lelah tampak menggurat diwajahnya; seakan beliau membimbing kami untuk menggapai cita-cita masa depan, walau pada saat itu kami belum tahu apa masa depan itu, kami hanya ingin menyenangkan Ibu bahwa kami menurut perintahnya. Ibu sangat paham kapan kami lelah dan harus tidur, dan kapan waktunya kami mendengarkan dongengan saat menjelang tidur.
Pertanyaan tersisa, masih adakah suasana itu pada keluarga Indonesia sekarang. Jawabannyanya, rasanya sudah menjadi barang langka. Semua atas nama kemajuan dan modrenisasi, sudah berubah 360 derajat. Sekarang sudah menjadi pandangan umum, keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, Anak berada pada satu tempat yang sama tetapi pada ruang yang berbeda.  Secara lahiriah mereka berada di tempat yang sama, padahal mereka tidak terhubung satu sama lain. Mereka tereliminasi secara masif melalui media sosial dengan ruang lain bersama orang lain. Dengan kata lain mereka berada pada tempat yang sama tetapi tidak pada ruang yang sama.
Revolusi Media Sosial (ReMedSos) ini sekarang begitu masif melanda individu Indonesia, bahkan ada petinggi Indonesia yang menyatakan rata-rata orang Indonesia berada pada durasi 13 jam perhari berada di MedSos. Jadi tidak mustahil untuk mengumpulkan sepuluh juta orang di Monas tidak perlu menggunakan undangan fisik, cukup undangan senyap melalui MedSos hal itu bisa terwujud dalam tempo yang singkat. Tidak perlu harus menggunakan Helikopter buat menyebar undangan. Demikian juga mencari dana untuk suatu kegiatan tidak harus membawa proposal dari pintu kepintu, cukup mempostingnya di laman gaget, semua akan terkumpul.
Ada yang menggantung sebagai residu sosial dari revolusi MedSos, yaitu pekerjaan Ibu makin berat dari sebelumnya. Ibu harus mampu membaca gerak anak di rumah bukan hanya dengan pancaindra saja, akan tetapi juga melalui mata batin. Karena mereka berinteraksi dengan teman melalui media, tidak jarang efek emosi dari media akan mempengaruhi, dan jika terabaikan bisa berakibat fatal. Oleh sebab itu ibu harus melek teknologi, agar keluarganya terhindar dari dampak negatif keberadaan teknologi.
Menjadi Ibu masa kini ternyata bukan sesuatu yang mudah, di samping harus memiliki kemampuan lebih bidang manajemen keuangan, karena tingginya biaya ekonomi, juga harus memiliki kemampuan menguasai teknologi komunikasi. Banyak sekali ibu mengalami gagal paham akan persoalan anak-anaknya; karena rendahnya kemampuan penguasan teknologi informasi.
Ibu masa kini dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang tidak jarang harus mengorbankan tenaga dan pikirannya di luar kewajaran. Bahkan harus bekerja ekstra keras, karena menjadi Polisi sekaligus Penasehat buat anak-anaknya. Pekerjaan rumah yang tadinya hanya sekitar: Dapur, Kasur, dan Sumur; sekarang ditambah dengan ; TUTUR, SEMBUR, dan UWUR.
Tutur adalah nasehat yang harus diberikan kepada seluruh isi rumah; terutama pada anak-anaknya. Tutur lebih pada ucapan bijak yang disampaikan ibu kepada anak-anaknya. Tutur yang lebih dikenal dengan Pitutur adalah nasehat-nasehat mulia yang disampaikan ibu pada anak2nya. Nasehat ini lebih menekankan pada tata laku moralitas bagi yang mendengarkannya. Namun ada prasyarat yang harus dimiliki yaitu sipemberi nasehat, dalam hal ini Ibu, harus mampu menunjukkan perilaku mulia seperti tuntutannya. Tanpa itu; maka Tutur yang diberikan akan kehilangan kewibawaannya, dan jika itu dilakukan berlebihan ; maka kesan cerewet yang muncul ;  bahkan  anak anak sekarang akan memberi label lebay.
Sembur adalah nasehat yang bernada keras, namun bukan bermakna marah. Ibu harus mampu melakukan ini kepada para putra-putrinya di rumah. Nasehat yang keras diperlukan untuk membangun semangat, sehingga para putra-putrinya tidak berjiwa lemah.  Sembur bukan berarti harus bawel, atau juga harus dengan nada tinggi. Sembur adalah cara Ibu memompakan semangat pada putra-putrinya agar tidak menyimpang dari pakem laku yang sudah ditetapkan. Sembur lebih bernuansa menegakkan disiplin pada putra-putrimya, sehingga mereka kelak menjadi orang-orang yang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup.
Uwur adalah memberikan semacam bantuan finansial seadanya kepada para putra- putri. Finansial disini bukan hanya berupa keuangan semata, akan tetapi lebih pada hal-hal yang bersifat bantuan material. Ibu harus siap menjadi Juru Selamat bagi putra-putrinya dalam arti luas.
Tampak di sini semakin nyata bahwa untuk menjadi Ibu pada era yang akan datang tidak cukup hanya pandai, tetapi dituntut cerdas. Tuntutan ini sejalan dengan sudah tidak adanya “dinding” di antara rumah-rumah. Semua sudah tembus dengan gelombang informasi melalui Media Sosial, yang menyerbu secara masif ke semua penjuru. Revolusi MedSos ini jika tidak dimanfaatkan dengan bijak oleh para Ibu sebagai orang yang ditakdirkan untuk mendampingi putra-putrinya, maka akan terjadi Goncangan Sosial yang dahsyat melanda keluarga.
Anak-anak diusia dini sampai remaja mengidolakan Ibunya. Posisi Ibu sebagai posisi sentral yang mereka anggap dapat menyelesaikan apapun persoalan mereka. Kondisi seperti ini banyak keluarga baru yang mengambil keputusan Ibu tidak harus ikut mencari nafkah, cukup mengurus anak-anak di rumah. Bahkan dari hasil penelitian  homeschooling (Sekolah Rumahan) ternyata 99 persen mentornya adalah Ibu mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa Ibu menjadi kata penentu bagi masa depan anak-anakknya.
Namun ada sisi lain yang juga kita harus perhatikan, ternyata jumlah terbesar penghuni Panti Werda adalah Perempuan. Rata-rata mereka adalah Oma-Oma yang sudah hidup sendiri, atau tidak memiliki keluarga. Pada Hari Ibu ini mereka juga berhak mendapatkan perhatian kita semua, karena mereka juga adalah bahagian dari Hari Besar itu. Tidak jarang diantara mereka waktu mudanya berjasa, akan tetapi karena faktor tertentu sehingga mereka berada di Panti Werda. Banyak jasa mereka seiring perjalanan waktu, menjadi terlupakan. Saatnyalah kita pada momentum hari bersejarah ini untuk megingat mereka.
Kata “Ibu” sendiri semua kita telah mempopulerkannya dengan memberikan kata depan kata “IBU” pada beberapa daerah, benda, dan lainnya untuk memberikan labeling penghormatan yang lebih. Kata “Bapak” tidak pernah dapat menyamai kata lebih dari “Ibu”. Hal ini menunjukkan secara Transendental Ibu memiliki kelebihan. Kelebihan kodrati ini menjadikan semacam kekuatan dahsyat yang hanya dimiliki oleh Ibu.
Menghormati Hari Ibu tidaklah cukup dengan membebaskannya hari itu dari semua pekerjaan rutinitas yang melekat pada Ibu, atau memberinya hadian istimewa dengan mengajak makan bersama, atau mengajaknya bertamasya; akan tetapi bagaimana memberikan apresiasi kepada Ibu untuk mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai manusia. Menempatkan Ibu pada kedudukan yang bermartabat sebagai sumber kehidupan keluarga.
Hal ini sangat jarang dilakukan karena semua kita cenderung terjebak kepada rutinitas, tidak dapat berfikir keluar dari pakem yang ada. Hari Ibu hanya dihiasi dengan sekedar formalitas, selesai pada berkain kebaya, kunjungan ke Panti, makan-makan; semua selesai dan kembali keutinitas. Apakah hanya itu untuk Ibu ?.


   

Wednesday, 14 September 2016

SEKOLAH ITU “MILIK SIAPA”

SEKOLAH ITU “MILIK SIAPA”

Sudjarwo. Guru Besar FKIP Unila

Minggu-minggu ini kesibukan DPRD Provinsi Lampung khususnya Komisi V bertambah, hal ini terjadi karena konsekwensi dari diberlakukannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia N0. 123 tahun 2014, tentang urusan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur untuk Penyelenggaran Pendidikan Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK). Gubernur bersama DPRD harus menyiapkan Peraturan Daerah guna menindaklanjuti Peraturan Menteri tersebut, walaupun dipemukaan hal itu terkesan mudah dan ringan, ternyata pada tataran implementasi banyak hal yang harus diperhatikan.

Selama ini Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan merupakan wilayah kerjanya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Tentu wilayah birokrasi ini menyimpan sejuta makna bagi petinggi yang mengaturnya. Sehingga tidak dapat dipungkiri wilayah ini menjadi medan tarikmenarik antarkepentingan dari para pemangku kepentingan.  

Berdasarkan pengalaman Jelajah Nusantara, ternyata banyak Daerah Tingkat Dua yang menjadikan SMA/SMK sebagai sumber dari Tenaga Andalan Kabupaten. Bahkan dibeberapa daerah Ketua Bapedanya ada yang dari Guru SMA, dan untuk beberapa Kepala Dinas juga dari Guru SMA. Secara hakekat dasar Hak Hak Azazi Manusia hal ini sah-sah saja, namun jika dilihat dari pembinaan personil, maka Guru Guru terbaik di tingkat SMA/SMK akan semakin berkurang karena mereka hijrah kebirokrat dengan berbagai alasan. Akibat jangka panjang mutu pembelajaran di SMA/SMK secara signifikan akan mengalami penurunan.

Untuk Provinsi Lampung hal tersebut di atas juga tidak terhindarkan; tidak sedikit guru-guru terbaik yang dimiliki SMA/SMK berhijrah ke birokrat, bahkan ada diantara mereka pada saat sekarang menduduki posisi kunci untuk tingkat Kabupaten/Kota. Karena mereka adalah orang-orang pilihan, maka tentunya mereka menjadi sukses, walaupun ditempat sekolah yang ditinggalkan untuk mendapatkan sekaliber guru tadi harus menanam kembali sepuluh sampai duapuluh tahun ke depan. Pertanyaan tersisa apakah dengan dikembalikan ke Provinsi eksodus seperti ini tidak akan terjadi. Jawabannya belum tentu.

Masalah Program.  
Pada waktu SMA/SMK dikelola oleh Dinas Kabupaten Kota, mereka menjadi instansi strategis yang cenderung politis. Program-program populer untuk mengangkat citra pimpinan daerah yang bermuatan politis sangat dimungkinkan untuk Dinas Pendidikan. Bandarlampung dengan Biling-nya, Lampung Barat dengan Bantuan Siswa ; adalah bantuan sosial yang sangat baik idenya, walaupun dalam implementasinya banyak hal yang tidak sesuai sasaran bahkan tidak jarang muatan politiknya menjadi begitu kental.

Terlepas dari hal-hal tersebutkan di atas, persoalannya sekarang bagaimana kesiapan Dinas Provinsi untuk melanjutkan program tersebut. Pada satu sisi program tersebut bagu, pada sisi lain jika itu dilaksanakan oleh Provinsi maka azaz keadilan harus dikedepankan, maksudnya harus diberlakukan untuk semua daerah. Pertanyaan tersisa adalah bagaimana dengan penganggaran, dan instrumen untuk menemukenali masalah apakah juga sudah disiapkan.

Masalah Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Secara jujur harus diakui pada saat ini banyak sekolah yang kekurangan tenaga pendidik dan kependidikan PNS, tetapi kelebihan tenaga pendidik dan kependidikan honor. Hal ini terjadi karena sekolah adalah lembaga “penitipan” para pemegang kekuasaan untuk menjadikan sekolah sebagai terminal untuk menjadi PNS melalui tenaga honorer.

Menyikapi kondisi di atas Dinas Pendidikan Provinsi sudah harus menyiapkan tata aturan agar tidak terjadi “ledakan” tenaga honorer yang tidak sesuai bidang keahlian, jumlah besaran, dan penganggaran. Jangan sampai justru Dinas Provinsi menambah masalah baru dengan “menitipkan” lagi tenaga honorer sehingga membebani anggaran Belanja Pegawai Provinsi. Penulis memperkirakan masa jeda seperti sekarang ini, jumlah tenaga “honorer siluman” seperti ini akan membengkak.

Masalah lain yang tidak kurang urgennya adalah kepatutan dan kepatuhan dalam pengangkatan Kepala Sekolah. Selama ini Pemda Tingkat II terkesan mengangkat Kepala Sekolah dengan menggunakan tataaturan yang tidak sesuai dengan tataaturan baku. Kepentingan “Balas Jasa politik” dan kepentingan “material” sering mengemuka, sehingga ada semacam transaksional kepentingan yang begitu dominan. Untuk itu diperlukan suatu aturan yang jelas oleh Dinas Pendidikan Provinsi tentang pengangkatan Kepala Sekolah secara terbuka dan transparan. Dinas disarankan membentuk tim indipenden untuk menilai kinerja kepala sekolah yang ada guna direkomendasi diteruskan atau tidak, kemudian pada masa depan untuk jabatan Kepala Sekolah dibuka tes atau uji kepatutan dan kelayakan oleh satu tim indipenden yang dapat menghasilkan pilihan-pilihan, dan keputusan yang diambil oleh Kepala Dinas berdasarkan hasil uji kepatutan dan kelayakan tadi.

Mulai dari sekarang Dinas Pendidikan Provinsi sudah harus melakukan penelusuran rekam jejak dari semua guru SMA/SMK yang menjadi kewenangannya; karena disinyalir ada sejumlah oknum guru yang melakukan ketidakpatutan dalam proses kenaikan pangkat. Sehingga bisa terjadi secara kepangkatan yang bersangkutan tinggi, namun dilihat dari kinerja akademiknya tidak sebangun dengan ketinggian pangkat administratifnya. Hal ini penting agar mereka yang nantinya masuk bursa Kepala Sekolah diperoleh yang memang layak tanding.

Terakhir perangkat yang harus disiapkan adalah Pengawas Sekolah. Untuk fungsional satu ini Dinas Pendidikan Provinsi harus memiliki alat ukur kreteria bagi mereka yang akan masuk pada karier ini. Pengawas Sekolah bukan jabatan “terusan” dari tidak menjadi Kepala Sekolah lagi. Akan tetapi memang jabatan akademik untuk memberikan pendampingan kepada guru yang ada di lapangan dalam menggelar proses pembelajaran. Kreteria minimal berpendidikan Strata dua Pendidikan yang merupakan alumni Perguruan Tinggi terakreditasi, memiliki rekam jejak akademik, dan lain sebagainya; bisa dijadikan kreteria untuk melakukan test kepatutan dan kelayakan bagi calon Pengawas Sekolah.

Semoga Dinas Pendidikan Provinsi sudah mempersiapkan diri baik secara fisik maupun suasana batin untuk menerima tugas berat baru dengan kembalinya SMA/SMK keranah tugasnya.








PENDIDIKAN SEBAGI SISTEM

PENDIDIKAN SEBAGI SISTEM
 A.Pengantar

Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “systema”, yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupaka suatu keseluruhan. Sistem merupakan istilah yang memiliki makna sangat luas dan dapat digunakan sebagai sebutan yang melekat pada sesuatu (Rustam Ali Sodiqin, diakses pkl 11.45. 21 Agst 2016).

Sistem adalah sebagai kesatuan dari unsur-unsur atau komponen yang saling berinteraksi guna mencapai tujuan. Hubungan antarelemennya sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan antara satu dengan lainnya. Hubungan ini merupakan hubungan fungsional, karena satu sama lain berfungsi sebagai sebab akibat dari lainnya. Hubungan serupa ini dalam kehidupan nyata banyak sekali contoh yang dapat kita ambil.

Pendidikan sebagai suatu kebutuhan hidup manusia, tentunya berproses seiring dengan tugas perkembangan yang melekat pada periodesasi perkembangan pada manusia. Oleh sebab itu idealnya tugas perkembangan manusiaa itu sejalan dengan usia kronologisnya. Namun demikian pada kenyataannya bisa saja tidak sejalan, bahkan saling mendahului diantara keduanya. Oleh sebab itu di kalangan ahli pendidikan dikenal Pendidikan In-Formal, Formal, dan Non-Formal.

Pendidikan sebagai proses dalam berkehidupan tidaklah berarti berjalan terpisah-pisah; akan tetapi merupakan rangkaian yang tak terpisahkan antara segmen satu dengan segman lainnya, dan proses ini berjalan sepanjang hayat manusia itu. Setiap segmen itu memiliki perbedaaan antara individu satu dengan individu lainnya, baik dalam bidang pengalaman belajar yang  diperoleh, maupun peristiwa pembelajaran yang dihadapi. Bisa saja fragmen kehidupan yang dihadapi sama, akan tetapi dalam menyikapi dan pengalaman individual yang diperoleh akan berbeda antara satu individu dengan individu lainnya.

B.Kurikulum dan Pendidikan

Kurikulum adalah rancangan pengalaman belajar yang disiapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selama ini pengertian kurikulum diartikan secara sempit diperuntukkan pada pendidikan formal dan non-formal. Jika itu dimaknai sebagai sesuatu yang tertulis, maka hal itu benar. Namun perlu diingat bahwa ada kurikulum yang tidak tertulis, beberapa ahli menyebutnya sebagai hidden curicullum (Sudjarwo : 2015). Kurikulum tak tertulis ini sebenarnya lebih luas dan sangat beragam tersedia pada Pendidikan In-formal, Formal, maupun Non-Formal. Menurut UU no. 20 tahun 2003, kurikulum adalah “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (Bab I Pasal 1 ayat 19). (UU. Sisdiknas : 2003).

Kurikulum Pendidikan In-FormalPendidikan in-formal dilaksanakan dalam kehidupan keluarga; tentunya tidak mengenal kurikulum formal yang tertulis, akan tetapi pada lembaga ini proses pendidikan melalui proses sosial seperti sosialisasi, akulturasi, dan assimilasi. Bahan bakunya adalah tata laku atau norma yang hidup didalam keluarga itu.

Pengenalan akan perilaku ; baik –buruk; suka – tidak suka, dan lain sebagainya justru merupakan proses pembelajaran dalam keluarga dengan kurikulum informalnya. Proses ini berjalan maju berkelanjutan, sehingga anggota keluarga tadi membentuk keluarga baru karena perkawinan. Pada keluarga baru tadi ada beberapa perilaku bawaan dari keluarga pertama yang terus terbawa menjadi kebiasaan, dan ini menjadi semacam  “penanda” dari garis turun keluarga tersebut bahkan berproses menjadi belife.

Kurikulum Pendidikan FormalPendidikan formal sangat mensyaratkan adanya kurikulum dalam proses pembelajaran; namun perlu dipahami bahwa kurikulum formal secara tertulis tidak lagi dibicarakan pada sajian ini; akan tetapi pembicaraan lebih pada kurikulum yang tidak tertulis.

Perlu disadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di muka/di dalam kelas saja, akan tetapi juga berlangsung di luar kelas; bahkan di luar lembaga pendidikan. Pendidikan dalam hal ini menjadi “patron” bagi peserta didiknya, sehingga apa yang menjadi perilakunya akan menjadi kurikulum hidup bagi peserta didiknya. Sebagai contoh; banyak dosen yang tidak belajar ilmu Dedaktik-Methodik secara teeoritis keilmuan, tetapi begitu diaa menjadi dosen, maka dosen yang dijadikan patronnya, akan menjadi contoh panutannya dalam mengajar. Dengan demikian dosennya tadi telah menurunkan keteladanan kepada mahasiswanya melalui kurikulum kehidupan, yang semua itu berbentang panjang sejalan perjalanan studi mahasiswanya.

Kurikulum Pendidikan Non-FormalPendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat di Indonesia dimasukan dalam kategori pendidikan non-formal.  Di dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 dan 27 disebutkan pedidikan non formal dan informal diakui keberadaannya oleh undang-undang sebagai pengganti/ pelengkap pendidikan formal. (UU Sisdiknas, 2003). Pembinaannya di bawah Ditjen PNFI, dahulu dikenal dengan nama Ditjen Pendidikan Luar Sekolah. Secara konsisten berfungsi melayani kebutuhan masyarakat. Kontribusi Ditjen PNFI bagi pendidikan masyarakat semakin luas dan perkembangannya menggembirakan.

Produk dari Pendidikan Non-Formal akhir-akhir ini dihargai setara dengan pendidikan formal. Ini dapat kita lihat diakomodasinya Tamatan Kejar Paket A,B,C menjadi setara dengan pendidikan SD, SLTP, dan SLTA. Bahkan alumni paket C dapat mendaftar mengikuti ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi.

Secara keseluruhan bahwa pendidikan itu perjalanannya berproses, dan tidak dapat dipisahkan secara nyata antara lingkup informal, formal, dan nonformal. Sifat maju berkelanjutana ini jika digambarkan maka akan tampak sebagaai berikut:   
                             Gambar : Proses Pertautan  Wilayah Pendidikan dilihat dari cakupan.

Jika dilihat dari ilustrasi gambar di atas bahwa pendidikan itu berlangsung secara proses, dan pakem formal yang disebut dengan kurikulum itu hanya ada pada lembaga pendidikan formal dan non-formal. Namun demikian bukan berarti bahwa pendidikan itu berlangsung terpaku pada kurikulum formal saja, akan tetapi juga dikontribusi oleh kurikulum tersembunyi (hidden curicullum) yang dimakalah ini diberi label “Kurikulum Kehidupan”.

Berdasarkan konsep pemikiran di atas bahwa pendidikan itu berjalan tidak bisa sendiri-sendiri atau complementer, akan tetapi harus berproses berkelanjutan dan berkaitan dengan banyak hal. Oleh sebab itu Cony Semyawan mengatakan bahwa kurikulum yang baik itu adalah kurikulum yang siap menampung perubahan jaman (1983). Bahkan lebih jauh dijelaskan bahwa kurikulum merupakan komponen proses dalam penyelenggaraan pendidikan.  Atas dasar itu juga maka hasil pendidikan tidak dapat dilihat hasilnya secara cepat; akan tetapi haruslah melalui proses yang panjang juga dan waktu yang lama.

C. KesimpulanHasil pendidikan tidak dapat dilihat atau dirasakan hasilnya dalam waktu singkat, karena penyelenggaraan pendidikan itu berjalan melalui proses. Oleh sebab itu Pendidikan adalah instrumen by disain dalam proses kehidupan manusia yang berlngsung sepanjang hayat.  
DAFTAR PUSTAKA
Semyawan, Cony : 1983. Pengantar Ilmu Pendidikan. IKIP Jakarta.www.curiculum.com.Rustam Ali Sodiqin, diakses pkl 11.45. 21 Agst 2016.Sudjarwo : 2015.   Proses Sosial dan Interaksi Sosial dalam Pendidikan. Mandar Maju. Bandung.Undang Undang Sistim Pendidikan Nasional, 2003.