Monday, 10 December 2018

MENGUSIR DAN TERUSIR



Oleh : Sudjarwo
Profesor Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP –Unila
Sindang Muara Jaya. Desa nelayan di muara kanal Pantai Timur Lampung, di sisi paling luar Kabupaten Mesuji itu menyimpan emosi. Dalam satu kunjungan supervisi penelitian, saya berinteraksi dekat dengan masyarakat, pekan lalu. Ada sejuta cerita tergelar dari berbagai kalangan. Ada keluhan sepanjang hayat tentang air yang tak layak pakai, ada kisah pilu tentang pengaruh negatif yang sulit dibendung, ada masalah ekonomi yang mendominasi. Tetapi, ada  juga lakon-lakon indah di kampung padat dan cenderung kumuh, yang dihuni para peburu ikan liar di sungai yang mengalir deras, bagai air laut yang mereka geluti setiap hari.

MIMPI SEBELUM TIDUR



Oleh : Sudjarwo
Profesor Ilmu-Ilmu Sosial FKIP Unila
Pagi itu ada gagasan yang melintas; bagaimana jaman sekarang orang mampu mendramatisir suatu keadaan yang tidak pernah terjadi, menjadi seolah-olah terjadi. Kemampuan untuk seperti ini mengingatkan pada cerita yang dikarang oleh Walmiki, hanya Prabu Batharakresna yang mampu melakukannya;
Sahdan pada perang besar Barathayudha pihak Korawa melantik Pendeta Dhorna untuk maju sebagai Panglima Perang. Tentu saja pihak Pandawa dibuat kacaubalau; baik dalam strategi maupun dalam moral. Karena mereka tahu persis bagaimana kesaktian Sang Dhorna; beliau ahli memanah, bahkan jadi guru mereka. Beliau juga ahli strategi perang yang luar biasa, dan mereka semua pernah menjadi murid beliau dalam belajar strategi perang ini. Saat itu yang terpikir hanya mereka akan menjemput ajal secara masal. Medan Kurusetra sebagai medan peperangan akan mereka tambah dengan mayat prajurit maupun panglima.

MBAH GURU DAN MBAH GOOGLE



Oleh : Sudjarwo
Profesor ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila
Ditengah-tengah memimpin diskusi Kuliah Pascasarjana Pagi itu telpon tangan bergetar; ada nomor tidak dikenal masuk, agak sedikit ragu untuk mengankatnya, karena jaman sekarang kehatihatian adalah cara yang paling baik, namun untuk ini naluri berkata lain sambunganpun terhubung; ternyata diseberang sana sohib jurnalis mengucapkan salam Selamat Hari Guru. Bersamaan itu pula ada rombongan mahasiswa Pascasarjana dari Program Studi yang mengikuti matakuliah Filsafat Ilmu maju kemuka membawa buket bunga dan satu buah Choklat merek tertentu memberikan dan berucap Selamat Hari Guru sang Profesor.

BELUM-BELUM SUDAH


Oleh : Sudjarwo
Profesor Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila

Terinspirasi dari Novel Karya Faizal Odang “Tiba Sebelum Berangkat” yang sedang naik daun itu, jadi teringat seorang teman Ketua Program Studi Pascasarjana yang juga pernah menggunakan istilah Belum-Belum Kok Sudah; dengan memberikan ulasan betapa banyak peristiwa sekarang yang belum dimulai sudah keburu diakhiri. Yang lebih parah lagi ialah sudah berakhir sebelum mulai. Hal ini tidak tanggung-tanggung dilakukan oleh sosok tokoh nasional yang tega membuat berita palsu dengan membuat dirinya operasi muka palsu; dijadikan treding palsu; ironis lagi kepalsuan ini dipercaya keasliannya sebagai kepalsuan sejati; menjadi lebih gila lagi hari itu akan diusulkan menjadi hari anti hoax.

Wednesday, 26 September 2018

MEMORIAL CATATAN KECIL Buat Pak ADEHAM


MEMORIAL  CATATAN KECIL Buat Pak ADEHAM
Oleh: Prof.Dr.Sudjarwo
Guru Besar FKIP Unila
Siang hari pukul 14.00 bunyi alat komunikasi dan terbaca dengan jelas bahwa pada hari Rabu ini tadi pukul 13.50 telah berpulang kerahmatullah Hi.Adeham bin Hi.Andok Asisten II Sekdaprov Lampung di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Kilasan peristiwa masa lalu kembali membayang bersama beliau tatkala masih sebagai staf Biro Sosial Politik di Pemerintah Daerah. Semua perijinan penelitian harus melalui meja beliau. Sekalipun beliau alumni FKIP Unila; namun penulis tetap mengambil jarak untuk kepentingan dinas. Tetapi apa yang terjadi; beliau memperlakukan menggunakan pendekatan humanis; bahkan sejak itu kami jarang menggunakan bahasa resmi, tetapi bahasa daerah atau bahasa Ibu.
Pada waktu beliau menjadi Kepala Dinas yang terkenal panas kursinya, justru beliau menemui penulis mengutarakan maksudnya ingin melanjutkan ke Pascasarjana Unila, dengan permohonan untuk tidak diberi perlakuan istimewa. Ini merupakan sesuatu yang aneh, biasanya pejabat tinggi didaerah ini meminta perlakuan khusus untuk hal-hal tertentu. Beliau mengatakan ingin ikut test akademik, wawancara dan sebagainya beliau ikuti sebagaimana layaknya calon mahasiswa lainnya. Bahkan setelah diterima beliau ikut Masa Orientasi Studi Mahasiswa baru yang di Pascasarjana dikenal dengan PSAP, hadir dan mengikuti semua rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir. Kebetulan beliau kuliah bersama istri; maka tampak sekali kekompakan pasangan ini dalam segala hal.