Harta Yang Paling Berharga nan Mulia Adalah Ilmu

Selasa, 11 Desember 2018

MBAH GURU DAN MBAH GOOGLE



Oleh : Sudjarwo
Profesor ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila
Ditengah-tengah memimpin diskusi Kuliah Pascasarjana Pagi itu telpon tangan bergetar; ada nomor tidak dikenal masuk, agak sedikit ragu untuk mengankatnya, karena jaman sekarang kehatihatian adalah cara yang paling baik, namun untuk ini naluri berkata lain sambunganpun terhubung; ternyata diseberang sana sohib jurnalis mengucapkan salam Selamat Hari Guru. Bersamaan itu pula ada rombongan mahasiswa Pascasarjana dari Program Studi yang mengikuti matakuliah Filsafat Ilmu maju kemuka membawa buket bunga dan satu buah Choklat merek tertentu memberikan dan berucap Selamat Hari Guru sang Profesor.


Haru juga rasanya, meminjam istilah sahabat dari Utara kondisi ini disebutnya “seru-seru Sendu” sebagai teman kalimat “ngeri-ngeri sedap”. Terbersit cerita jagad pewayangan di kelir itu ada tokoh diberi nama “Bethara Guru” yaitu rajanya para dewa. Semua dewa atas perintahnya melakukan semua pekerjaannya, termasuk Bathara Gana, atau lebih dikenal Ganesa  yang ditugasi menjaga ilmu pengetahuan. Rasanya tersiram air sejuk mendapatkan ucapan selamat seperti di atas. Menjadikan tangan ini gatal untuk berbagi isi otak ini kepada khalayak.
Terlepas dari cerita rekaan para pujangga; ternyata peran Bethara Guru itu sekarang diambil alih oleh Google. Pada laman ini semua ada dan boleh diminta kapan saja tentang apa saja, oleh siapa saja. Laman ini ramah; semua yang diminta dari yang paling baik sampai yang paling jelek, sudah tersedia dan swalayan alias ambil sendiri. Karena kebaikannya inilah membuat Kementerian Komunikasi dan Informasi menjadi kalang kabut, atas nama moral sampai dibuat program penapisan guna tidak semua informasi yang dimiliki laman Google dapat diakses. Jadi tidaklah salah jika raja kayangan diberi nama Bathara Guru; maka Google kita sementara beri nama Mbah Google.
Relasi antara Google dan Guru ternyata saat ini menjadi sangat mesra; demikian juga dengan para mahasiswa. Betapa banyak Mahasiswa membuat makalah, thesis, bahkan disertasi; sering tidak malu-malu mengcopy paste isi perut Google dengan tanpa dosa tidak menyebut sumber.Untuk kelakuan ini, Mbah Google tidak pernah marah, protes dan atau sebangsanya. Di samping itu saat yang bersamaan betapa banyaknya guru meminta pertolongan google  untuk mencarikan bahan pembelajaran guna kelengkapan  matapelajaran yang diampunya, dan tidak jarang ada diantara mereka  yang tidak malu-malu mengclaim itu hasil pikiran dan temuannya.
Sisi lain Google juga begitu bermurah hati karena dengan sukarela dia mau menggantikan peran guru yang malas membuka buku, untuk dapat memanfaatkannya. Bahkan google pun tidak merasa berdosa jika ada murid yang mendahului kegesitan guru dalam mengakses ilmu melalui lamannya.
Pada kondisi ini peran guru sebenarnya menjadi begitu central. Tidak salah jika pemerintah setiap tahun sudah menggelontorkan dana triliunan rupiah, guna membayar dana sertifikasi untuk para guru. Dengan harapan guru yang telah dibekali dengan tunjangan sertifikasi; akan menunjukkan kinerja yang lebih baik.
Sisa pertanyaan yang ada adalah berapa persen tunjangan sertifikasi yang guru terima dimanfaatkan guna membeli perangkat pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Berapa persen tunjangan sertifikasi guru digunakan untuk upaya diri meningkatkan kualitas diri melalui jenjang pendidikan.
Kondisi ini diperparah lagi oleh teman-teman Jurnalis yang sering salah berita. Penerimaan Tunjangan Sertfikasi beritanya begitu besar dan membahana, namun berita pemanfaatan dana tunjangan sertifikasi untuk kepentingan peningkatan diri dan melengkapi media pembelajaran, yang seharusnya dilakukan oleh guru; ternyata teman Jurnalis lupa menulis. Sehingga yang terjadi guru lebih tertarik membaca judul dari pada isi.
Mendidik generasi melenial seperti sekarang tantangannya sebenarnya cukup berat bagi guru. Generasi sekarang sudah amat sangat familiar dengan produk Teknologi; terutama teknologi digital. Mereka merupakan generasi “bisu” yang selalu berbicara. Bisu dalam arti sangat jarang menggunakan organ mulutnya untuk bicara, tetapi mereka tetap bicara melalui ujung jarinya. Oleh karena itu kita sering berjumpa dengan murid dalam tatabicara sangat tidak beraturan, namun dalam tatatulis sangat baik dan santun.
Penguasaan teknologi digital sekarang ini, yang sudah merambah ke kelas-kelas pembelajaran di sekolah; menjadikan guru dalam mengelola kelas menjadi berhadapan dengan pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan dan memudahkan; karena informasi apapun kita bisa mengarahkan untuk menggunakan laman digital, termasuk Google. Namun pada sisi lain menjadikan guru harus bersiap menjadi orang yang dinomor duakan setelah laman digital, termasuk Google. Oleh sebab itu tidaklah salah jika sekarang kehati-hatian kita dalam kehidupan dunia yang semula dihadapkan pada Harta, Tahta, dan Wanita; sekarang bertambah satu lagi Pulsa. Karena tanpa Pulsa kita seolah berada pada rimba keterasingan.
Pergeseran luar biasa terjadi; yang semula Guru merupakan sumber belajar utama; justru sekarang laman digital menjadi sumber belajar terpercaya. Kondisi ini seharusnya membuat guru semakin menyadari, bahwa kehadirannya dimuka kelas bisa terabaikan, jika dirinya tidak selalu mengupgrade kemampuan pembelajarannya. Karena peran sebagai sumber belajar yang selama ini melekat pada dirinya, berangsur angsur sekarang diambil alih oleh laman digital.
Namun perlu disadari ada satu peran yang melekat pada guru tidak tergantikan oleh produk teknologi; yaitu peran mendidiknya. Peran mengajar kita akui semakin hari semakin tergerus, namun peran mendidik, tidak akan mungkin mampu tergantikan. Mendidik sebagai aspek laku kepribadian hanya ada pada guru.
Peran mendidik yang lebih banyak menampilkan perilaku utama pada manusia yang berprofesi guru, maka tidaklah salah jika pada negara-negara tertentu, sekalipun telah maju, namun penghormatan pada guru tetap tinggi; bahkan cenderung memberlakukannya sebagai “manusia setengah dewa”.
Untuk negara yang berdasarkan pada Pancasila seperti Indonesia ini; memang tidaklah harus “mendewakan Guru”; namun paling tidak mendahulukan selangkah, meninggikan seranting, kepada guru adalah sesuatu yang bersifat wajar. Tinggal berpulang kepada gurunya, mampukah dia berperan sebagai pendidik paripurna untuk generasinya.
Mampukah guru untuk tidak masuk pada golongan orang yang “lampu sainnya ke kiri, beloknya ke kanan”,  atau “musiknya melayu, tarinya keroncong”. Tetapi menjadi golongan manusia yang “ Ing Ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”;  seperti yang digadang oleh Suwardi Suryaningrat sebagai nama kecilnya Ky.Hajar Dewantara .
Guru masa kini sudah sangat diperhatikan oleh pemerintah dengan pemberian Tunjangan Sertifikasi, ataupun jenis lain namanya;  dan pensyaratan menjadi guru yang cukup berat guna menjaga marwah dan kualitas guru. Pertanyaan yang tersisa apakah guru  sebagai manusia terpilih tadi mampu memberikan yang terbaik yang ada pada dirinya untuk generasi mendatang bangsa ini. Adalah sisa persoalan yang hanya guru yang harus menjawabnya.
Orgaanisasi guru sudah beragam adanya, tidak ada lagi pengkotakkan guru pada satu tambora besar; pilihan untuk “menjadi” sudah sangat terbuka dan kebebasan mutlah diberikan kepada guru. Tinggal kecerdasan guru sekarang dituntut, apakah dirinya mau menjadi profesional atau partisan. Kalau pilihannya pada profesional, maka sudah selayaknya sekian persen dari tunjangan sertifikasi yang diterima dijadikan modal dasar meningkatkan kualitas diri dan pengembangan diri secara maksimal. Sebaliknya jika pilihannya partisan; maka organisasi politik menanti anda. Tinggal memilih apakah anda tetap ingin menjadi “sumber ilmu”, atau beralih menjadi “sumber ngelmu”. Karena keduanya secara ontologi sangat berbeda maqomnya.
Keberpihakan jaman kepada guru akan terus berlanjut. Pada jaman lalu, guru menjadi kuda Troya bagi penguasa. Kooptasi politik pada guru begitu masib, guna mempertahankan kekuasaan, guru dijadikan kendaraan politik. Masa tirani itu sudah berakhir; sekarang kemerdekaan anda hirup dan nikmati. Tinggal bagaimana Guru membawa berkah itu untuk tidak menjadi petaka.
Selamat Hari Guru, namamu tidak usal dikenal karena memang sudah terkenal. Namamu tidak usah dikenang, karena memang bukan kenangan. Keberadaanmu menembus batas ruang dan waktu serta jaman. Tidak ada waktu yang tidak memerlukan guru, tidak ada jaman yang tanpa guru. Tidak ada kata “bekas” pada guru karena ruang bagi guru sebagai sesuatu yang unlimeted. Semoga Indonesia tetap jaya dimasa  depan menyamai keemasan Majapahit dan Sriwijaya.




1 komentar:

  1. MestiQQ Adalah perusahaan judi online KELAS DUNIA ber-grade A

    Sudah saatnya Pencinta POKER Bergabung bersama kami dengan Pemain - Pemain RATING-A

    Hanya dengan MINIMAL DEPOSIT RP. 10.000 anda sudah bisa bermain di semua games.

    Kini terdapat 8 permainan yang hanya menggunakan 1 User ID & hanya dalam 1 website.
    ( POKER, DOMINO99, ADU-Q, BANDAR POKER, BANDARQ, CAPSA SUSUN, SAKONG ONLINE, BANDAR66 )

    PROSES DEPOSIT DAN WITHDRAWAL CEPAT Dan AMAN TIDAK LEBIH DARI 2 MENIT.

    100% tanpa robot, 100% Player VS Player.
    Live Chat Online 24 Jam Dan Dilayani Oleh Customer Service Profesional.

    Segera DAFTARKAN diri anda dan Coba keberuntungan anda bersama MestiQQ
    ** Register/Pendaftaran : WWW-MestiQQ-POKER
    Jadilah Milionare Sekarang Juga Hanya di MestiQQ ^^

    Untuk Informasi lebih lanjut silahkan Hubungi Customer Service kami :
    BBM : 2C2EC3A3
    WA: +855966531715
    SKYPE : mestiqqcom@gmail.com

    BalasHapus